Lastworkingday – Industri film horor Indonesia kembali menggeliat dengan narasi yang lebih berani dan mendalam. Tahun 2026 menjadi saksi lahirnya sebuah karya sinematik berjudul Film Rajah, sebuah film yang menjanjikan lebih dari sekadar aksi kejar-kejaran dengan makhluk halus atau jumpscare murahan. Melalui sinopsis yang telah dirilis, film ini membawa penonton ke dalam labirin teror ghaib yang mengincar jiwa, sembari menyisipkan kritik tajam mengenai fenomena sosial yang dibungkus dalam istilah mistis: Petaka Zaman Edan.
Membintangi nama-nama populer seperti Angel Lisandi, Panji Zoni, Samuel Rizal, hingga Aditya Zoni, Rajah mencoba membedah bahwa ketakutan terbesar manusia bukanlah sosok bertanduk atau hantu yang berlumuran darah, melainkan sebuah masa di mana tatanan moral jungkir balik dan jiwa-jiwa manusia menjadi komoditas yang haus akan kehancuran.
Sinopsis FIlm Rajah, Hantaman Teror yang Tak Berkesudahan

Cerita berpusat pada Nilam (Angel Lisandi) dan Cakra (Panji Zoni). Kehidupan mereka yang semula tenang berubah menjadi mimpi buruk saat rentetan teror ghaib menghujani keseharian mereka tanpa ampun. Teror ini bukan sekadar gangguan kecil; ada kekuatan gelap yang secara aktif bergerak untuk “melahap” jiwa mereka. Perburuan ini terasa sangat personal, seolah ada kontrak ghaib masa lalu yang menuntut pelunasan.
Dalam pelarian dan pencarian jawaban, mereka dipertemukan dengan dua sosok misterius, Malawangsa (Samuel Rizal) dan Birsha (Aditya Zoni). Kehadiran Malawangsa dan Birsha membawa dimensi baru dalam konflik ini—apakah mereka pelindung, atau justru bagian dari skema besar yang sedang menjerat Nilam dan Cakra? Di saat yang bersamaan, muncul sosok Tribuana (Ditha Samantha), seorang pelatih tari tradisional Jawa yang auranya menyiratkan rahasia kuno yang kelam. Pertanyaannya, akankah mereka selamat dari intaian tak kasat mata yang semakin mengganas?
Membedah Filosofi “Petaka Zaman Edan”
Judul artikel ini menegaskan sebuah poin krusial: “Bukan Sekadar Iblis”. Dalam kebudayaan Jawa, istilah Zaman Edan merujuk pada ramalan Jayabaya tentang masa di mana dunia kehilangan kompas moralnya—masa di mana orang benar menjadi tertindas, dan orang yang “gila” (edan) justru berjaya.
Film Rajah menggunakan metafora ini untuk menggambarkan horor yang lebih sistematis. Jika iblis hanya menyerang secara individu, Petaka Zaman Edan menyerang secara kolektif. Ia merusak kewarasan, memutarbalikkan logika, dan membuat manusia saling memangsa demi ambisi. Film ini mengajak kita merenung: apakah teror yang dialami Nilam dan Cakra adalah akibat dari ulah iblis murni, ataukah mereka adalah korban dari “penyakit” zaman yang sudah terlalu rusak hingga menarik entitas ghaib untuk ikut berpesta?
Sosok Tribuana: Simbol Keanggunan yang Mematikan
Kehadiran Tribuana, sang pelatih tari tradisional, menjadi elemen paling menarik dalam film ini. Tari Jawa seringkali diasosiasikan dengan keanggunan, spiritualitas, dan hubungan dengan leluhur. Namun, di tangan sutradara Rajah, tarian ini berubah menjadi medium mistis yang mengerikan.
Tribuana merepresentasikan bagaimana tradisi dan seni bisa disalahgunakan untuk mengikat jiwa. Setiap gerakan tariannya mungkin saja adalah sebuah “rajah” (surat sakti/rajah) yang tidak ditulis di atas kertas, melainkan diukir di udara untuk mengunci nasib seseorang. Ditha Samantha berhasil membawakan karakter yang terlihat sangat tenang namun menyimpan ancaman yang bisa melahap siapa saja yang berani menatap matanya terlalu lama.
Dinamika Karakter, Antara Keputusasaan dan Perlawanan

Daya tarik utama film bioskop ini juga terletak pada jajaran pemainnya. Angel Lisandi sebagai Nilam memberikan performa emosional tentang seorang wanita yang jiwanya terkikis oleh rasa takut, namun tetap memiliki insting bertahan hidup yang kuat. Sementara Panji Zoni sebagai Cakra harus berperan sebagai penyeimbang yang berusaha tetap logis di tengah situasi yang sama sekali tidak masuk akal.
Pertemuan mereka dengan Malawangsa (Samuel Rizal) memberikan aura action-horror yang segar. Malawangsa tampak seperti sosok yang sudah “kenyang” berurusan dengan dunia hitam, sementara Birsha (Aditya Zoni) memberikan nuansa misteri yang sulit ditebak arahnya. Chemistry antara kakak-beradik Panji dan Aditya Zoni di layar lebar tentu menjadi nilai tambah yang sangat dinantikan oleh para penggemar.
Visual dan Atmosfer: Estetika Ghoib yang Mencekam
Dari bocoran trailer dan beberapa potongan adegan, Film Rajah tampak sangat memperhatikan estetika visual. Penggunaan pencahayaan yang minim (low-light) dikombinasikan dengan simbol-simbol rajah kuno menciptakan atmosfer yang sesak. Teror tidak selalu datang dari kegelapan, terkadang ia muncul di tengah riuhnya suara gamelan atau di balik indahnya selendang tari.
Sinematografi film ini berhasil menangkap ngerinya Petaka Zaman Edan melalui visualisasi dunia yang terasa “sakit”. Lingkungan di sekitar karakter tampak membusuk dan tidak bersahabat, memperkuat perasaan bahwa bumi yang mereka injak sudah tidak lagi aman.
Mengapa Film Ini Berbeda dari Horor Lainnya?
Di saat pasar horor Indonesia dibanjiri oleh tema sekte sesat atau pembalasan dendam hantu penasaran, Film Rajah berani mengambil langkah berbeda dengan mengangkat isu eksistensial manusia di tengah zaman yang kacau. Film ini tidak hanya menjual ketakutan fisik, tapi juga ketakutan akan kehilangan jati diri dan kesucian jiwa.
Fokus pada Film Rajah sebagai elemen utama menunjukkan bahwa ada kekuatan kata-kata dan simbol yang bisa melampaui kekuatan fisik. Rajah adalah doa atau mantra yang dituliskan, dan dalam konteks film ini, rajah tersebut menjadi penjara sekaligus kunci bagi nasib Nilam dan Cakra.
Kritik Sosial di Balik Teror Mistis

Secara tersirat, film Rajah seolah ingin berbicara tentang kondisi dunia saat ini. Zaman di mana kebenaran sulit ditemukan, di mana orang rela mengorbankan apa saja (termasuk jiwa mereka) untuk mencapai tujuan, adalah bentuk nyata dari Zaman Edan.
Teror ghaib yang menghujani Nilam dan Cakra mungkin adalah manifestasi dari kegelisahan manusia modern. Birsha dan Malawangsa bisa diartikan sebagai dua sisi koin dari cara manusia menghadapi masalah: dengan kekuatan fisik atau dengan pemahaman mistis yang mendalam. Penonton akan diajak untuk bertanya pada diri sendiri: “Jika Zaman Edan tiba, apakah jiwaku cukup kuat untuk tidak dilahap?”
Prediksi: Akankah Mereka Selamat?
Menjelang akhir film bioskop horor, penonton akan dibawa pada konklusi yang menegangkan. Mengingat tema yang diangkat adalah “Petaka Zaman Edan”, akhir cerita yang bahagia (happy ending) mungkin bukanlah hal yang mudah didapat. Keselamatan dalam film Rajah mungkin tidak berarti tetap hidup, melainkan bagaimana menjaga agar jiwa tidak hancur meskipun fisik sudah tidak berdaya.
Pertarungan antara Nilam-Cakra melawan intaian tak kasat mata Tribuana dan kekuatan ghaib lainnya akan menjadi klimaks yang menguras energi. Penonton diharapkan bersiap untuk sebuah twist yang mungkin akan mengubah persepsi kita tentang siapa sebenarnya penjahat dalam cerita ini.
Kesimpulan
Film Rajah bukan sekadar film tentang iblis yang mengejar manusia. Ini adalah sebuah surat peringatan tentang ngerinya kehilangan kemanusiaan di tengah masa yang kacau. Dengan balutan tari tradisional Jawa yang mistis, akting yang solid, dan narasi “Zaman Edan” yang relevan, film ini siap menjadi standar baru dalam genre horor Indonesia.
Bersiaplah, karena saat film ini diputar, bukan hanya layar yang akan dipenuhi Film Rajah, tapi jiwa Anda mungkin akan ikut merasakan intaian dari Petaka Zaman Edan yang haus akan mangsa.
