Lastworkingday – Dunia perfilman Indonesia kembali disuguhi sebuah karya yang memadukan unsur komedi, horor, dan kritik sosial yang tajam melalui film berjudul “Setannya Cuan”. Dengan latar belakang kehidupan masyarakat desa yang masih kental dengan kepercayaan mistis, film ini menyoroti bagaimana ambisi manusia terhadap kekuasaan dan harta seringkali membawa mereka ke jalan yang gelap.
Dibintangi oleh deretan komedian dan aktor ternama seperti Joe P Project, Anyun Cadel, Fico Fachriza, hingga Candil, film Setannya Cuan ini menjanjikan gelak tawa sekaligus perenungan. Premis utamanya sederhana namun sangat dekat dengan fenomena masyarakat: pemilihan kepala desa (Pilur) yang penuh intrik, persaingan harga diri antar jawara, dan pelarian instan lewat praktik pesugihan demi mendapatkan “cuan” atau keuntungan materi.
Persaingan Dua Jawara Film Setannya Cuan, Gengsi di Balik Kursi Lurah

Kisah dimulai dengan persaingan sengit antara dua sosok jawara desa yang sangat berpengaruh, yaitu Adang (Joe P Project) dan Asep (Anyun Cadel). Keduanya memiliki basis massa yang kuat dan ego yang besar sebagai pemimpin informal di desa mereka. Namun, panggung sebenarnya adalah pemilihan kursi lurah yang dianggap sebagai lambang kesuksesan tertinggi.
Adang digambarkan sebagai jawara senior yang sangat berambisi. Ia rela mengerahkan segala sumber daya, termasuk harta bendanya, untuk memenangkan hati warga. Di sisi lain, Asep tampil sebagai penantang yang tidak kalah tangguh. Persaingan ini bukan sekadar soal pengabdian kepada warga, melainkan soal siapa yang lebih kuat dan lebih berwibawa di mata masyarakat. Duel politik tingkat desa ini menjadi pembuka yang menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah kekuasaan di tingkat akar rumput.
Kemenangan Berbuah Duka: Kebangkrutan Sang Lurah Baru
Setelah melewati masa kampanye yang melelahkan dan penuh biaya, Adang akhirnya berhasil memenangkan pemilihan dan resmi menduduki kursi lurah. Namun, kemenangan yang diimpikannya ternyata menjadi awal dari sebuah tragedi pribadi. Biaya politik yang terlampau besar—mulai dari “serangan fajar” hingga menjamu tim sukses—membuat seluruh harta kekayaan Adang terkuras habis.
Ironisnya, alih-alih menikmati kejayaan, Adang justru jatuh bangkrut. Beban utang yang menumpuk membuat kehidupan rumah tangganya hancur. Sang istri yang tidak tahan dengan kondisi ekonomi yang terpuruk akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Adang. Di titik ini, film Setannya Cuan mulai menyentuh sisi satir: seorang pemimpin desa yang berkuasa di hadapan warga, namun hancur dan sebatang kara di kehidupan pribadinya. Kemenangan Adang terasa hambar dan menyakitkan.
Rahasia Kekayaan Asep dan Persaingan Memperebutkan Mince
Kondisi Adang semakin kontras ketika melihat nasib Asep. Meski kalah dalam pemilihan lurah, Asep justru terlihat semakin makmur. Ia mendadak menjadi kaya raya tanpa alasan yang jelas bagi warga desa. Keangkuhan Asep semakin menjadi-jadi saat ia mampu melunasi semua utang-utang Adang, sebuah tindakan yang menghina harga diri Adang sebagai pemenang pemilu sekaligus jawara.
Ketegangan di antara keduanya semakin memuncak karena mereka juga terlibat dalam rivalitas asmara. Keduanya berlomba-lomba memperebutkan hati seorang janda muda nan cantik di desa tersebut bernama Mince (Nadine Alexandra). Persaingan memperebutkan lurah mungkin sudah usai, namun persaingan memperebutkan cinta dan pengakuan sosial baru saja dimulai. Kekayaan mendadak Asep menjadi modal utama bagi dirinya untuk menarik perhatian Mince, membuat Adang semakin merasa terpojok dan putus asa.
Terungkapnya Praktik Pesugihan Togel Lewat Dukun Rojan

Misteri kekayaan Asep akhirnya terungkap melalui kesaksian Ujang (Fico Fachriza). Ujang menceritakan bahwa rahasia keberuntungan Asep bukan berasal dari bisnis yang halal, melainkan karena bantuan mistis. Asep ternyata selalu menang dalam permainan judi togel (toto gelap) berkat campur tangan seorang dukun nyentrik namun sakti bernama Rojan (Candil).
Dukun Rojan bukanlah sosok biasa. Ia mampu memberikan nomor-nomor jitu yang selalu membawa kemenangan bagi pengikutnya. Namun, seperti halnya setiap perjanjian dengan kekuatan gelap, ada harga mahal yang harus dibayar. Penonton akan diajak melihat bagaimana praktik klenik dan judi togel menjadi pelarian masyarakat yang ingin kaya tanpa kerja keras, sebuah potret kelam yang masih terjadi di banyak sudut wilayah tanah air.
Syarat Mengerikan: Pembunuhan dan Pencurian Batu Nisan
Melihat musuh bebuyutannya sukses besar, Adang yang sedang putus asa akhirnya mendatangi Dukun Rojan. Ia ingin mendapatkan kembali kejayaannya dan mengalahkan kekayaan Asep. Namun, Rojan memberikan syarat yang jauh lebih berat dan mengerikan daripada yang pernah diterima Asep. Rojan bersedia membantu Adang dengan syarat: Adang harus membunuh Asep dan mencuri batu nisannya.
Desakan ekonomi dan kebencian yang mendalam membuat Adang kehilangan akal sehat. Syarat tersebut dilakukan, dan kematian Asep menjadi titik balik bagi alur film bioskop Setannya Cuan ini. Dari sini, nuansa komedi mulai bercampur dengan horor yang mencekam. Batu nisan Asep menjadi tumbal pesugihan yang membuat Adang terus-menerus menang togel. Uang mengalir deras ke kantong Adang, namun kedamaian di desa mulai hilang.
Kegemparan Desa, Demam Pocong, Tuyul, Hingga Babi Ngepet

Keberhasilan Adang mendapatkan uang secara instan tidak berjalan diam-diam. Warga desa yang melihat sang lurah baru tiba-tiba kaya raya mulai mencium aroma pesugihan. Alih-alih merasa takut atau menjauh, warga desa justru terjangkit “virus” yang sama. Mereka berbondong-bondong berburu kekayaan instan lewat berbagai praktik ilmu hitam.
Desa yang awalnya tenang berubah menjadi mencekam dan konyol secara bersamaan. Warga mulai memelihara tuyul, melakukan ritual pocong, hingga mempraktikkan babi ngepet. Fenomena ini menjadi kritik tajam bagi mentalitas “setannya cuan”—di mana nilai-nilai moral dan kemanusiaan digadaikan demi angka-angka di buku tabungan. Kehidupan sosial desa rusak total karena semua orang saling mencurigai namun di sisi lain sama-sama bersekutu dengan kegelapan.
Melawan Dukun Rojan: Misi Mengembalikan Warasnya Warga
Di tengah kegilaan yang terjadi, Ujang menyadari bahwa ulah Dukun Rojan telah merusak mental dan tatanan sosial warga desa secara permanen. Rojan bukan hanya seorang dukun, ia adalah provokator yang menghancurkan moralitas dari dalam. Warga tidak lagi percaya pada proses, kerja keras, dan doa, melainkan hanya percaya pada nomor jitu dan tumbal.
Film Setannya Cuan ini mencapai puncaknya ketika muncul kesadaran bahwa lingkaran setan ini harus dihentikan. Ulah Dukun Rojan yang mengambil keuntungan dari keserakahan manusia harus berakhir. Misi untuk menghentikan praktik pesugihan ini menjadi perjalanan yang penuh dengan aksi kocak namun juga menegangkan, di mana Adang harus menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
Pesan Moral di Balik Gelak Tawa
“Setannya Cuan” bukan sekadar film komedi horor biasa. Film Setannya Cuan ini adalah sebuah cermin yang memperlihatkan sisi gelap ambisi manusia. Melalui tokoh Adang dan Asep, kita diingatkan bahwa kekuasaan yang diraih dengan cara yang salah hanya akan membawa kehancuran. Kekayaan yang didapat lewat jalan pintas, seperti judi togel dan pesugihan, pada akhirnya akan meminta bayaran yang jauh lebih mahal daripada nilai uang itu sendiri.
Dengan akting Joe P Project yang khas dan tingkah laku Fico Fachriza yang mengocok perut, film Setannya Cuan ini berhasil menyampaikan pesan berat tentang integritas dan bahaya keserakahan dengan cara yang ringan. Pada akhirnya, “cuan” memang menggoda, namun jangan sampai kita menjadi “setan” demi mengejarnya.
