Lastworkingday – Industri film religi Indonesia kembali menghadirkan sebuah narasi yang menyentuh relung hati terdalam melalui karya terbaru berjudul “Dalam Sujudku”. Mengusung tema pengkhianatan dalam rumah tangga yang dibalut dengan kekuatan spiritual, film ini bukan sekadar tontonan air mata biasa. Dibintangi oleh Vinessa Inez, Marcell Darwin, dan Naura Hakim, film ini memotret realitas pahit pernikahan jarak jauh serta upaya seorang wanita untuk tetap tegak di atas prinsip keimanannya saat dunianya runtuh.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai film yang menguras emosi dan penuh pesan moral ini.
Sinopsis Film Dalam Sujudku, Ketika Kesetiaan Diuji Jarak dan Nafsu

Cerita berpusat pada kehidupan Aisyah (Vinessa Inez), seorang istri yang merupakan representasi dari ketulusan dan ketaatan. Hidup dalam kesederhanaan di kampung halaman, Aisyah menjalani hubungan pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriage) dengan suaminya, Farid (Marcell Darwin), yang mengadu nasib di hiruk-pikuk Jakarta.
Awalnya, pernikahan mereka adalah definisi dari kebahagiaan. Komunikasi yang rutin, kata-kata manis, dan janji-janji masa depan yang indah menjadi bahan bakar Aisyah untuk tetap sabar menanti kepulangan sang suami. Namun, Jakarta ternyata menjadi ujian yang terlalu berat bagi Farid. Di tengah kesepian dan kerasnya ibu kota, Farid terjebak dalam pesona Rina (Naura Hakim).
Konflik memuncak saat Aisyah tanpa sengaja menemukan bukti perselingkuhan suaminya. Kepercayaan yang selama ini ia jaga seperti kristal pecah berkeping-keping. Aisyah tidak hanya berhadapan dengan pengkhianatan Farid, tetapi juga dengan rasa rendah diri dan luka batin yang membuatnya mempertanyakan segala kebaikan yang telah ia lakukan. Di sinilah perjalanan emosional “Dalam Sujudku” dimulai—sebuah perjalanan tentang bagaimana pengampunan terkadang merupakan jalan paling terjal untuk ditempuh.
Karakterisasi: Performa Memukau Vinessa Inez dan Marcell Darwin
Keberhasilan film ini tak lepas dari pemilihan pemain yang mampu menerjemahkan emosi dengan sangat jujur.
Vinessa Inez sebagai Aisyah
Vinessa Inez memberikan performa yang luar biasa sebagai Aisyah. Ia berhasil menampilkan sosok istri yang lembut namun memiliki keteguhan luar biasa. Ekspresi wajahnya saat pertama kali mengetahui perselingkuhan Farid—perpaduan antara keterkejutan, kemarahan, dan kesedihan yang tertahan—menjadi salah satu momen paling ikonik dalam film ini. Vinessa tidak terjebak dalam akting “korban yang lemah”, melainkan menunjukkan kekuatan melalui kerentanan.
Marcell Darwin sebagai Farid
Marcell Darwin memerankan Farid dengan sangat apik. Ia tidak digambarkan sebagai sosok antagonis yang hitam-putih. Penonton diperlihatkan bagaimana Farid adalah pria biasa yang pada dasarnya mencintai istrinya, namun kalah oleh godaan dan lemahnya iman saat jauh dari rumah. Transformasi karakternya dari suami yang penyayang menjadi pria yang penuh rahasia, hingga akhirnya jatuh dalam penyesalan, terasa sangat organik.
Naura Hakim sebagai Rina
Naura Hakim sebagai “orang ketiga” memberikan bumbu yang pas. Rina tidak ditampilkan sebagai sosok “pelakor” karikatur yang jahat tanpa alasan. Ia adalah potret wanita modern yang egois dan merasa berhak mendapatkan kebahagiaan meski di atas penderitaan orang lain. Kehadirannya menjadi katalisator badai yang membuat penonton merasa geram sekaligus merenung.
Sinematografi dan Pengarahan: Visualisasi Sunyi dalam Doa
Sutradara film ini sangat cerdas dalam memanfaatkan kontras visual antara desa tempat Aisyah tinggal dan Jakarta tempat Farid berada. Desa digambarkan dengan warna-warna hangat, tenang, namun sunyi—mencerminkan batin Aisyah yang tulus. Sebaliknya, Jakarta ditampilkan dengan warna-warna dingin, lampu kota yang menyilaukan, dan suasana yang sibuk, merepresentasikan kegalauan dan kekacauan moral Farid.
Momen-momen saat Aisyah bersujud menjadi bagian yang secara visual sangat kuat. Penggunaan teknik close-up pada wajah Aisyah yang basah oleh air mata di atas sajadah menciptakan suasana intim antara penonton dan pergulatan batin sang tokoh utama. Musik latar yang minimalis namun menyayat hati semakin mempertegas tema “sujud” sebagai pelarian sekaligus tempat mencari kekuatan.
Tema Utama, Pengampunan di Tengah Badai

H2 utama dari film ini adalah pertentangan antara harga diri dan pengampunan. Film ini mengajukan pertanyaan sulit: Apakah perselingkuhan bisa dimaafkan demi keutuhan keluarga?
Dalam banyak film serupa, tokoh istri biasanya digambarkan langsung memaafkan atau langsung menggugat cerai. Namun, Film Drama Dalam Sujudku memilih jalan tengah yang lebih manusiawi. Aisyah mengalami fase penolakan, kemarahan, hingga tawar-menawar dengan keadaan. Ia menunjukkan bahwa memaafkan bukanlah sebuah peristiwa instan, melainkan sebuah proses yang panjang, berdarah-darah, dan membutuhkan bantuan kekuatan dari Yang Maha Kuasa.
Film Dalam Sujudku ini secara berani memperlihatkan bahwa agama bukan hanya soal ritual, melainkan solusi saat logika manusia sudah buntu. Pilihan Aisyah untuk “mendekat kepada Tuhan” bukan berarti ia lari dari masalah, tetapi ia mencari perspektif yang lebih luas untuk melihat masa depan pernikahannya.
Analisis Konflik: Mengapa Perselingkuhan dalam LDR Begitu Menyakitkan?
Film Dalam Sujudku ini dengan tajam memotret kerentanan pernikahan jarak jauh (LDR). Jarak fisik sering kali menciptakan jarak emosional. Farid merasa bahwa Aisyah “tidak ada di sana” saat ia butuh teman bicara, sementara Aisyah merasa sudah memberikan segalanya dengan doa dan kesetiaannya.
“Dalam Sujudku” mengkritik bagaimana teknologi (ponsel/panggilan video) yang seharusnya mendekatkan, justru sering kali digunakan sebagai alat untuk menyembunyikan kebohongan. Ketegangan saat Farid berusaha menyembunyikan notifikasi dari Rina di depan layar ponsel saat sedang video call dengan Aisyah adalah adegan yang sangat relevan dengan banyak pasangan saat ini.
Pesan Moral, Kekuatan Doa sebagai Terapi Jiwa

Judul film ini bukan sekadar hiasan. “Dalam Sujudku” membawa pesan kuat tentang fungsi ibadah sebagai terapi kesehatan mental bagi mereka yang terzalimi. Aisyah menemukan bahwa dengan bersujud, ia bisa melepaskan beban yang tidak sanggup ia ceritakan kepada orang lain.
Pesan lainnya adalah tentang tanggung jawab seorang suami. Film Drama ini mengingatkan bahwa nafkah bukan hanya soal uang yang dikirimkan setiap bulan, melainkan menjaga kehormatan dan perasaan istri yang menanti di rumah. Pengkhianatan Farid diperlihatkan memiliki efek domino—menghancurkan mental istri, mengganggu hubungan dengan keluarga besar, hingga mengacaukan pekerjaannya sendiri.
Kelebihan dan Kekurangan Film Dalam Sujudku
Kelebihan:
-
Alur Cerita Realistis: Tidak terburu-buru dalam penyelesaian konflik.
-
Akting Solid: Vinessa Inez memberikan salah satu performa terbaik dalam kariernya.
-
Nilai Religi yang Tidak Menggurui: Pesan agamanya tersampaikan melalui tindakan dan perasaan, bukan sekadar ceramah lisan.
Kekurangan:
-
Tempo di Pertengahan: Ada beberapa bagian di babak kedua yang terasa sedikit lambat, terutama saat menggambarkan kegalauan Farid.
-
Antagonis yang Kurang Digali: Latar belakang Rina mungkin bisa sedikit lebih diperdalam untuk memberikan dimensi mengapa ia bersedia menjadi orang ketiga.
Tontonan Wajib bagi Pasangan dan Keluarga
“Dalam Sujudku” adalah sebuah karya yang jujur. Ia tidak menjanjikan akhir cerita fairytale yang manis tanpa usaha. Film ini menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan keluarga adalah jalan yang penuh duri, namun bukan berarti mustahil untuk dilewati.
Bagi Anda yang menyukai drama religi dengan kedalaman emosi, film Dalam Sujudku ini adalah pilihan tepat. Ia akan membuat Anda menangis, marah, namun pada akhirnya memberikan rasa damai dan inspirasi untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap masalah rumah tangga.
Rating Film: 8.5/10
