Lastworkingday – Dunia perfilman horor Indonesia kembali diramaikan oleh karya yang mengangkat kearifan lokal sekaligus mitos yang paling ditakuti oleh masyarakat Jawa: Malam Satu Suro. Melalui Film Sengkolo: Petaka Satu Suro, penonton diajak menyelami kegelapan sebuah desa yang terjebak dalam kutukan kuno dan misteri kematian beruntun yang tidak masuk akal.
Film ini bukan sekadar menyajikan adegan jumpscare, melainkan membangun atmosfer mencekam melalui narasi tentang dendam, takhayul, dan pengorbanan yang mengerikan. Dengan latar belakang desa yang terisolasi, teror ini menjadi semakin nyata saat kalender mendekati malam pergantian tahun Jawa yang sakral.
Sinopsis Film Sengkolo, Ketika Malam Satu Suro Menjadi Kutukan

Kisah dalam Film Sengkolo: Petaka Satu Suro berpusat pada sebuah desa yang semula tenang namun perlahan berubah menjadi neraka di bumi. Kedamaian warga terusik ketika satu per satu penduduk meninggal secara tidak wajar. Kematian ini bukan disebabkan oleh wabah penyakit, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap dan bersifat metafisika.
Teror desa semakin mencekam karena banyak hal-hal aneh yang terjadi. Warga mulai melihat penampakan-penampakan yang tak kasat mata di sudut-sudut desa yang gelap. Ketakutan mencapai puncaknya ketika pola kematian mulai terbaca: sebagian besar korban adalah wanita hamil. Kematian para ibu dan janin mereka secara berturut-turut menciptakan keresahan yang luar biasa.
Menjelang Malam Satu Suro, suasana desa benar-benar mati. Tidak ada lagi tawa anak-anak di sore hari, yang ada hanyalah aroma kemenyan dan suara isak tangis dari rumah-rumah yang berduka. Penampakan makhluk menyeramkan semakin sering terjadi, seolah-olah batas antara alam manusia dan alam gaib telah runtuh.
Sengkolo: Mitologi Jawa tentang Kesialan dan Malapetaka
Judul “Sengkolo” sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Jawa yang berarti malapetaka, kesialan, atau hambatan gaib. Dalam kepercayaan tradisional, Sengkolo adalah energi negatif yang menempel pada seseorang atau sebuah tempat, yang jika tidak dibersihkan melalui ritual ruwatan, akan membawa bencana terus-menerus.
Dalam film ini, “Sengkolo” digambarkan sebagai kekuatan jahat yang sengaja dilepaskan atau dipicu oleh pelanggaran terhadap pantangan kuno. Fokus cerita pada wanita hamil menambah kedalaman horor tradisionalnya, karena dalam mitos Jawa, wanita hamil dianggap memiliki “darah manis” yang sangat disukai oleh makhluk halus, terutama di malam-malam keramat seperti Satu Suro. Kutukan Sengkolo di desa ini bukan hanya menyerang fisik, tapi juga menyerang mental para lelaki yang kehilangan istri dan calon anak mereka.
Teror Wanita Hamil: Misteri di Balik Kematian Tragis
Mengapa harus wanita hamil? Pertanyaan ini menjadi motor penggerak rasa penasaran penonton sepanjang film. Kematian para wanita hamil dalam Film Sengkolo: Petaka Satu Suro digambarkan dengan sangat brutal namun penuh simbolis. Ada dugaan kuat bahwa kematian ini berkaitan dengan praktik ilmu hitam atau perjanjian terlarang (pesugihan) yang dilakukan oleh salah satu warga desa.
Pola kematian yang spesifik ini membuat para wanita yang sedang mengandung di desa tersebut hidup dalam ketakutan luar biasa. Mereka dikurung di dalam rumah, dikelilingi oleh jimat-jimat pelindung, namun teror tetap saja menembus dinding-dinding kayu rumah mereka. Kejadian menyeramkan yang terjadi secara berturut-turut ini membuat warga mulai saling curiga. Fitnah bertebaran, dan hubungan antar tetangga rusak akibat rasa takut yang tidak terkendali.
Kemarahan Warga, Konflik Sosial di Tengah Teror Gaib

Teror yang meresahkan ini akhirnya menyulut api kemarahan warga. Manusia yang merasa terpojok oleh kekuatan yang tidak bisa mereka lawan cenderung mencari pelampiasan. Warga desa yang awalnya bersatu mulai terpecah. Mereka mencari “kambing hitam” yang dianggap sebagai penyebab datangnya kutukan Sengkolo tersebut.
Kemarahan warga ini menambah ketegangan film. Penonton tidak hanya disuguhi teror dari hantu atau makhluk halus, tetapi juga teror dari sesama manusia yang sudah kehilangan akal sehat akibat rasa takut. Aksi main hakim sendiri, penggeledahan rumah warga yang dicurigai sebagai penganut ilmu hitam, hingga ritual-ritual nekat dilakukan warga demi menghentikan kematian beruntun tersebut. Konflik sosial ini menggambarkan betapa rapuhnya kemanusiaan ketika dihadapkan pada misteri kematian yang tidak terpecahkan.
Atmosfer Desa Mencekam: Visual dan Desain Suara
Kekuatan utama Film Sengkolo Horor ini terletak pada kemampuannya membangun world-building sebuah desa yang mencekam. Penggunaan pencahayaan yang minim, kabut yang menyelimuti hutan di sekitar desa, serta arsitektur rumah kayu kuno memberikan kesan “sesak” dan terisolasi.
Desain suara juga memegang peranan penting. Suara gesekan bambu, kicauan burung malam yang dianggap sebagai pertanda kematian, hingga suara bisikan-bisikan gaib di telinga para korban dibuat sedemikian rupa agar penonton merasa ikut terjebak di dalam desa tersebut. Menjelang klimaks di Malam Satu Suro, elemen visual dan audio bersatu untuk menciptakan pengalaman horor yang intens, menggambarkan bagaimana kekuatan Film Sengkolo benar-benar mengambil alih desa.
Menjelang Malam Satu Suro, Puncak Malapetaka

Malam Satu Suro adalah titik balik dalam film ini. Dalam tradisi Jawa, malam ini adalah waktu untuk prihatin, berdoa, dan melakukan pembersihan diri. Namun dalam film Sengkolo: Petaka Satu Suro, malam tersebut justru menjadi waktu di mana pintu gerbang malapetaka terbuka lebar.
Segala teror yang terjadi sebelumnya hanyalah “pemanasan”. Di malam keramat ini, rahasia besar di balik kematian para wanita hamil akhirnya terungkap. Penampakan yang sebelumnya hanya sekilas kini menjadi nyata dan mengancam nyawa siapa pun yang berada di luar rumah. Ritual terakhir harus dilakukan untuk memutus rantai kutukan Sengkolo, namun pengorbanan yang diminta ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan oleh para warga desa.
Pesan Moral di Balik Horor Film Sengkolo
Di balik segala kengerian dan darah yang tertumpah, Film Horor ini membawa pesan moral tentang konsekuensi dari perbuatan manusia. Sengkolo sering kali tidak datang dengan sendirinya; ia dipicu oleh keserakahan, dendam, atau penyimpangan janji. Film ini mengingatkan bahwa tradisi dan kepercayaan ada bukan untuk ditakuti secara membabi buta, melainkan untuk dihormati agar keseimbangan antara alam nyata dan alam gaib tetap terjaga.
Ketidakpastian dan ketakutan warga desa mencerminkan bagaimana kita sering kali bereaksi secara destruktif terhadap hal-hal yang tidak kita pahami. Melalui karakter utamanya, film ini mencoba menawarkan perspektif tentang keberanian dalam menghadapi masa lalu yang kelam demi menyelamatkan masa depan desa.
Sebuah Odisei Horor Tradisional yang Kuat
Film Sengkolo: Petaka Satu Suro bukan hanya sekadar film tentang hantu, melainkan potret misteri kematian beruntun yang dibungkus dengan sangat rapi dalam balutan budaya Jawa. Dengan premis teror terhadap wanita hamil dan ketegangan menjelang Malam Satu Suro, film ini berhasil menyajikan horor yang terasa dekat, personal, dan sangat mencekam.
Bagi para pecinta film horor yang mencari narasi kuat tentang mitologi lokal dan ketegangan psikologis, film ini adalah tontonan yang wajib masuk dalam daftar. Film Sengkolo mengajarkan kita bahwa terkadang, rahasia yang terkubur jauh lebih berbahaya daripada penampakan yang terlihat di depan mata.
