Lastworkingday – Industri film horor kolaborasi lintas negara kembali menggebrak layar lebar di tahun 2026. Dengan tajuk “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”, film bioskop ini bukan hanya memberikan ketakutan visual yang seram, tetapi juga mengangkat isu sosial yang paling relevan dan menyentuh hati: perjuangan untuk mencari keadilan bagi korban kekerasan seksual.
Film ini menggandeng sederet bintang muda berbakat dari Indonesia dan Korea Selatan, menciptakan perpaduan budaya dan ketegangan yang unik. Dengan premis yang kuat, penonton diajak mengikuti perjalanan Tania, seorang mahasiswi Indonesia yang niat awalnya untuk menuntut ilmu di Seoul justru berubah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan. Artikel ini akan membedah secara mendalam narasi, karakter, hingga teror arwah yang menjadikan film ini sebagai salah satu tontonan wajib tahun ini.
Awal Mula Mimpi Buruk, Program Pertukaran Pelajar yang Tragis di Film Tolong Saya

Kisah dimulai dengan keceriaan Tania (Saskia Chadwick), mahasiswi berprestasi asal Jakarta yang berhasil memenangkan program pertukaran pelajar ke sebuah universitas ternama di Korea Selatan. Baginya, Seoul adalah kota impian dengan gemerlap lampu neon, budaya yang modern, dan masa depan yang cerah. Namun, kenyamanan tersebut segera memudar saat ia mulai menempati sebuah goshiwon (asrama sempit) tua yang terletak di sudut gelap distrik terpencil.
Keanehan mulai terjadi sejak malam pertama. Tania sering mendengar suara bisikan lirih dalam bahasa Korea yang berbunyi “Dowajuseyo” (Tolong Saya). Awalnya, ia menganggap suara itu hanyalah halusinasi akibat kelelahan dan culture shock. Namun, frekuensi suara tersebut semakin intens, diikuti oleh munculnya bercak air di langit-langit kamar yang membentuk pola wajah manusia yang sedang menangis.
Puncak dari keganjilan ini adalah kemunculan sosok Min Yong (Kim Seoyoung), arwah seorang perempuan muda Korea yang terus menampakkan diri dengan kondisi yang mengenaskan. Min Yong bukan arwah yang ingin membalas dendam secara membabi buta, melainkan sebuah jiwa yang tersiksa karena kematiannya yang tragis dirahasiakan oleh orang-orang berpengaruh.
Misteri Min Yong: Korban Pelecehan di Balik Dinding Senyap
Melalui penglihatan-penglihatan gaib yang dialami Tania, terungkap bahwa Min Yong adalah mantan mahasiswi di universitas yang sama dengan Tania. Ia menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang oknum pejabat universitas yang memiliki koneksi kuat dengan pihak berwajib. Karena tekanan sosial dan ancaman terhadap keluarganya, Min Yong tidak pernah mendapatkan keadilan hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya—atau begitulah yang diberitakan oleh media setempat.
Kehadiran Min Yong di sekitar Tania bukanlah tanpa alasan. Arwah ini merasakan adanya empati yang besar dari dalam diri Tania. Namun, cara arwah berkomunikasi seringkali melampaui batas kewarasan manusia hidup. Teror visual seperti cermin yang pecah saat Tania berkaca, hingga sentuhan tangan dingin yang membekas di lehernya, mulai membuat Tania kehilangan fokus pada studinya.
Persoalan menjadi semakin pelik ketika Tania menyadari bahwa Min Yong ingin Tania melakukan sesuatu yang sangat berbahaya: membongkar berkas rahasia di arsip universitas yang dijaga ketat. Di sinilah dilema muncul; membantu arwah berarti mempertaruhkan status beasiswanya, namun mengabaikannya berarti membiarkan dirinya terus dihantui hingga gila.
Sekutu dalam Kegelapan, Peran Dr Park Min Jae dan Sherly

Sadar bahwa ia tidak bisa menghadapi teror ini sendirian, Tania mulai mencari bantuan. Ia bertemu dengan Dr. Park Min Jae (Kim Geba), seorang dosen sejarah yang ternyata memiliki ketertarikan pada fenomena urban legend dan sejarah kelam universitas tersebut. Dr. Park berperan sebagai mentor yang menerjemahkan simbol-simbol gaib yang ditinggalkan Min Yong dan memberikan konteks sejarah tentang bagaimana kasus-kasus serupa sering ditutupi di masa lalu.
Selain Dr. Park, Tania didampingi oleh sahabat karibnya, Sherly (Aruma Khadijah). Sebagai sesama mahasiswi Indonesia, Sherly memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan. Meski pada awalnya Sherly sangat skeptis dan ketakutan, ia akhirnya menjadi orang yang membantu Tania melakukan investigasi lapangan. Interaksi antara Tania dan Sherly memberikan sentuhan kemanusiaan dan sedikit kehangatan di tengah atmosfer film yang dingin dan mencekam.
Kehadiran Dion: Pria Misterius dengan Masa Lalu Kelam
Ketegangan dalam Film BIoskop “Tolong Saya! (Dowajuseyo)” semakin menggila dengan munculnya peran Dion (Cinta Brian). Dion adalah seorang pria asal Indonesia yang sudah lama menetap di Korea dan bekerja sebagai fotografer lepas. Ia sering terlihat di sekitar tempat kejadian perkara lama yang berkaitan dengan kematian Min Yong.
Dion digambarkan sebagai sosok yang dingin dan penuh rahasia. Pertemuannya dengan Tania memberikan secercah harapan sekaligus keraguan baru. Dion mengklaim memiliki bukti foto yang bisa membantu mengungkap kebenaran, namun ia tampak sangat enggan untuk membukanya ke publik.
Seiring berjalannya alur, terungkap bahwa Dion memiliki masa lalu kelam yang berkaitan dengan pelaku pelecehan Min Yong. Keberadaannya menambah kompleksitas situasi; apakah Dion adalah kawan yang ingin menebus kesalahan masa lalunya, atau justru ia adalah bagian dari rencana besar untuk membungkam Tania secara permanen? Pilihan Tania untuk mempercayai Dion menjadi salah satu titik balik paling mendebarkan dalam film ini.
Teror Visual dan Psikologis: Ancaman terhadap Kewarasan
Sutradara film ini sangat cerdik dalam mengeksekusi horornya. Alih-alih mengandalkan jumpscare murahan, “Tolong Saya!” lebih berfokus pada horor psikologis dan atmosfer yang menyedatkan. Penonton diajak merasakan isolasi yang dialami Tania sebagai orang asing di negeri orang yang tidak dipercayai saat menceritakan kejadian gaib.
Salah satu adegan yang paling ikonik adalah saat Tania terjebak di dalam perpustakaan tua saat badai salju. Di sana, Min Yong tidak hanya menampakkan diri, tetapi memaksa Tania merasakan sensasi fisik yang dialami korban saat kejadian nahas itu berlangsung. Tekanan mental ini membuat Tania mulai mempertanyakan mana yang nyata dan mana yang hanya merupakan proyeksi dari trauma arwah yang merasukinya.
Efek suara yang menggunakan perpaduan instrumen tradisional Indonesia (seperti dentuman lirih gamelan) dan alat musik Korea (seperti haegeum yang melengking) menciptakan ketidakharmonisan yang sangat efektif untuk membangun rasa cemas. Penonton seolah dipaksa ikut merasakan sesak napas yang dialami Tania setiap kali arwah Min Yong mendekat.
Menghadapi Kebenaran yang Mengerikan

Menjelang babak akhir, Tania harus membuat keputusan sulit. Investigasi yang dilakukannya bersama Dr. Park dan bukti dari Dion membawanya pada sebuah kenyataan bahwa pelaku sebenarnya masih bebas berkeliaran dan bahkan menduduki posisi terhormat. Ancaman tidak lagi datang dari dunia roh, melainkan dari manusia hidup yang siap melakukan apa saja demi menutupi aib mereka.
Konfrontasi akhir bukan hanya terjadi di dimensi gaib antara Tania dan Min Yong, tetapi juga perlawanan hukum dan fisik terhadap para pelaku. Tania menyadari bahwa untuk menghentikan teror Min Yong, ia tidak cukup hanya dengan mendoakannya, tetapi harus memberikan “suara” bagi mereka yang selama ini dibungkam.
Kebenaran yang terungkap ternyata jauh lebih mengerikan dari sekadar penampakan hantu. Ini adalah tentang sistem yang korup dan bagaimana nyawa seseorang dianggap tidak berharga dibandingkan dengan reputasi sebuah institusi. Di sinilah letak pesan moral yang kuat dari film ini: keadilan seringkali menuntut pengorbanan yang sangat besar.
Lebih dari Sekadar Film Horor
“Tolong Saya! (Dowajuseyo)” adalah sebuah mahakarya horor kolaborasi yang berhasil menggabungkan elemen supranatural dengan isu kemanusiaan yang mendalam. Akting Saskia Chadwick yang sangat emosional mampu menyampaikan rasa frustrasi dan keberanian seorang penyintas teror. Sementara itu, Kim Seoyoung memberikan performa yang menghantui sebagai Min Yong, mengingatkan kita bahwa arwah yang penasaran seringkali adalah produk dari ketidakadilan dunia nyata.
Film Tolong Saya ini bukan hanya mengajak kita untuk takut pada sosok hantu, tetapi lebih takut pada keheningan masyarakat terhadap tindak kejahatan. Dengan sinematografi yang apik dan alur cerita yang sulit ditebak, “Tolong Saya!” akan meninggalkan kesan yang mendalam bahkan setelah lampu bioskop dinyalakan.
