0 Comments

Lastworkingday – Film drama keluarga selalu memiliki tempat spesial di hati penonton Indonesia, terutama ketika mengangkat tema yang sangat dekat dengan realita: benturan antara idealisme anak muda dan nostalgia orang tua. Film terbaru bertajuk “Senin Harga Naik” menghadirkan konflik yang tidak hanya menguras air mata, tetapi juga memancing pemikiran mendalam mengenai arti kesuksesan.

Tokoh utama kita, Mutia (diperankan dengan apik oleh Nadya Arina), terjebak dalam sebuah labirin emosional. Ia harus memilih antara puncak karier yang selama ini ia impikan atau melindungi satu-satunya peninggalan paling berharga yang menjadi napas hidup ibunya, Retno (Meriam Bellina). Artikel ini akan membedah dilema besar Mutia dan bagaimana film ini menggambarkan retaknya hubungan keluarga demi sebuah ambisi.

Luka Lama di Balik Ambisi, Alasan Mutia Pergi dari Rumah

Luka Lama di Balik Ambisi, Alasan Mutia Pergi dari Rumah
Luka Lama di Balik Ambisi, Alasan Mutia Pergi dari Rumah

Konflik dalam film ini bermula dari sebuah pertengkaran hebat tiga tahun silam. Mutia digambarkan sebagai sosok milenial yang progresif, ambisius, dan haus akan pengakuan. Di sisi lain, Retno adalah gambaran ibu konservatif yang menganggap bahwa kebahagiaan sejati ada pada keberlanjutan tradisi keluarga—dalam hal ini, mengelola toko roti legendaris bernama Mercusuar.

Ketidaksepahaman ini memuncak pada keputusan Mutia untuk angkat kaki. Baginya, rumah bukan lagi tempat yang mendukung impiannya, melainkan belenggu yang menahannya untuk berkembang. Kepergian Mutia adalah bentuk pembuktian diri. Ia ingin menunjukkan kepada dunia, dan terutama kepada ibunya, bahwa ia bisa sukses secara mandiri tanpa harus “bersembunyi” di balik aroma ragi dan tepung di toko roti mereka yang mulai menua.

Karier di Ujung Tanduk: Proyek Penggusuran Mercusuar

Tiga tahun berlalu, dan Mutia berhasil membuktikan ucapannya. Ia telah menjadi bintang baru di sebuah perusahaan properti raksasa. Namun, ironi kehidupan menghampirinya tepat saat promosi jabatan yang ia idamkan sudah di depan mata. Syaratnya cukup berat: ia harus menyelesaikan sengketa lahan untuk proyek pembangunan superblok baru.

Dilema muncul ketika ia menyadari bahwa titik sentral dari lahan yang harus digusur adalah Mercusuar, toko roti milik ibunya sendiri. Di sinilah judul “Senin Harga Naik” mulai terasa getir. Bagi perusahaan tempat Mutia bekerja, Mercusuar hanyalah sepetak tanah yang harganya akan melambung tinggi di hari Senin saat proyek dimulai. Namun bagi Mutia, Mercusuar adalah gudang kenangan masa kecil yang kini harus ia “robohkan” dengan tangannya sendiri demi posisi Direktur Pemasaran.

Kepulangan yang Canggung dan Misi Rahasia Bersama Saudara

Kepulangan yang Canggung dan Misi Rahasia Bersama Saudara
Kepulangan yang Canggung dan Misi Rahasia Bersama Saudara

Tidak ada pilihan lain, Mutia harus pulang. Namun, kepulangannya bukan untuk berdamai secara tulus, melainkan membawa misi terselubung. Di sini penonton akan disuguhi dinamika saudara kandung yang sangat realistis. Mutia mencoba melunakkan hati Retno dengan bantuan kakak dan adiknya.

Ada elemen komedi getir saat Mutia mencoba berperan sebagai anak yang berbakti hanya agar sang ibu mau menandatangani surat pelepasan hak tanah. Kakak dan adik Mutia, yang awalnya ragu, akhirnya terbujuk oleh janji pembagian komisi yang dijanjikan Mutia jika proyek tersebut berhasil. Penonton akan diajak melihat bagaimana uang dan ambisi bisa perlahan-lahan merusak ketulusan dalam sebuah hubungan darah. Mereka berkolaborasi untuk “merayu” Retno, tanpa menyadari bahwa bagi sang ibu, Mercusuar adalah wujud fisik dari kasih sayang dan kenangan akan mendiang suaminya.

Retno dan Mercusuar: Lebih dari Sekadar Toko Roti

Penampilan Meriam Bellina sebagai Retno memberikan beban emosional yang kuat pada film bioksop Senin Harga Naik ini. Melalui sudut pandang Retno, kita memahami bahwa roti-roti yang dipanggang setiap pagi bukan sekadar komoditas dagang. Mercusuar adalah tempat di mana ia merasa suaminya masih ada. Setiap sudut toko, setiap resep kuno yang ia jaga, adalah cara Retno berkomunikasi dengan masa lalu.

Dilema Mutia semakin memuncak ketika ia mulai sering menghabiskan waktu di rumah. Aroma roti yang dulu ia benci mulai membangkitkan memori-memori manis yang sempat ia kubur. Ia mulai melihat ibunya bukan sebagai penghalang karier, melainkan sebagai seorang wanita tua yang kesepian dan hanya ingin mempertahankan martabat kenangannya. Pertarungan batin Mutia menjadi sangat intens: apakah ia akan menjadi “pahlawan” bagi perusahaannya atau menjadi “penghianat” bagi ibunya sendiri?

Pesan Moral: Harga Sebuah Kesuksesan dan Nilai Kenangan

Film “Senin Harga Naik” dengan cerdas menanyakan kepada penonton: “Berapa harga yang pantas untuk sebuah kenangan?” Bagi perusahaan properti, harganya jelas tertera dalam angka rupiah. Namun bagi seseorang yang tumbuh di dalamnya, kenangan tidak memiliki label harga.

Mutia merepresentasikan generasi kita yang seringkali terlalu fokus pada “masa depan” dan “pencapaian” hingga lupa bahwa ada hal-hal yang tidak bisa digantikan dengan uang atau jabatan. Film Senin Harga Naik ini tidak secara hitam-putih menyalahkan Mutia atas ambisinya, karena mencari kesuksesan mandiri adalah hal yang valid. Namun, film Senin Harga Naik ini mengingatkan bahwa kesuksesan yang dibangun di atas reruntuhan hati orang tua akan terasa sangat hampa di puncak nanti.

Klimaks Film Senin Harga Naik, Keputusan Akhir Mutia yang Mengubah Segalanya

Klimaks Film Senin Harga Naik, Keputusan Akhir Mutia yang Mengubah Segalanya
Klimaks Film Senin Harga Naik, Keputusan Akhir Mutia yang Mengubah Segalanya

Menjelang akhir film, tekanan dari perusahaan semakin besar. Hari Senin semakin dekat, dan “harga” yang harus dibayar semakin tinggi. Mutia berada di titik nadir ketika sang ibu akhirnya mengetahui bahwa kepulangan anaknya selama ini didasari oleh niat untuk menggusur tokonya sendiri.

Momen konfrontasi antara Mutia dan Retno di dapur toko Mercusuar menjadi puncak emosional film drama komedi ini. Di sana, rahasia-rahasia lama terungkap, termasuk alasan mengapa Retno begitu gigih mempertahankan toko tersebut meskipun sudah tidak lagi menguntungkan secara finansial. Keputusan yang diambil Mutia pada akhirnya akan menentukan apakah ia akan tetap merobohkan kenangan sang ibu demi karier cemerlang, atau justru melakukan “perlawanan” terhadap perusahaannya sendiri demi menjaga warisan keluarga.

Kesimpulan

“Senin Harga Naik” adalah sebuah potret keluarga yang jujur. Melalui karakter Mutia, kita belajar bahwa pulang ke rumah seringkali bukan soal kembali ke tempat fisik, melainkan kembali ke nilai-nilai yang membentuk kita. Dilema antara karier dan keluarga adalah ujian kedewasaan yang sesungguhnya. Film Senin Harga Naik ini mengingatkan kita bahwa sesukses apapun kita di luar sana, jika kita kehilangan akar dan kenangan masa kecil, maka kita sebenarnya tidak benar-benar memiliki apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts