Lastworkingday – Dunia perfilman Indonesia kembali dihebohkan dengan drama religi yang menyentuh relung emosi terdalam melalui judul yang cukup provokatif namun sarat makna: “1 Imam 2 Makmum”. Film ini bukan sekadar kisah poligami biasa, melainkan sebuah eksplorasi tentang “poligami batin” di mana seorang istri harus bersaing dengan sosok yang sudah tidak ada lagi di dunia, namun masih bertahta di hati sang suami.
Dibintangi oleh Amanda Manopo, Fedi Nuril, dan Revalina S. Temat, film yang terinspirasi dari kisah nyata ini menyajikan dinamika rumah tangga yang kompleks. Artikel ini akan membedah bagaimana film ini menggambarkan perjuangan seorang wanita dalam memenangkan hati pria yang masih terpenjara oleh masa lalu.
Premis Cerita 1 Imam 2 Makmum, Pernikahan di Atas Bayang-Bayang Masa Lalu

Kisah 1 Imam 2 Makmum berpusat pada kehidupan Anika (Amanda Manopo), seorang wanita muda yang penuh harapan saat memutuskan menikah dengan Arman (Fedi Nuril). Arman adalah sosok pria yang tampak sempurna—setia, mapan, dan santun. Namun, Arman membawa beban emosional yang berat: ia adalah seorang duda yang telah kehilangan istri tercintanya, Leila (Revalina S. Temat), empat tahun yang lalu.
Bagi Anika, pernikahan ini adalah awal dari ibadah panjang. Namun, bagi Arman, pernikahan ini seolah hanya sebuah formalitas sosial. Konflik batin dimulai ketika Anika menyadari bahwa ia tidak benar-benar sendirian di dalam rumah itu. Sosok Leila hadir dalam setiap sudut rumah, dalam setiap percakapan yang tak terselesaikan, dan dalam setiap tatapan kosong Arman. Di sinilah penonton diajak bertanya: apakah adil memulai lembaran baru jika buku lama belum benar-benar ditutup?
Karakter Anika: Ketulusan di Tengah Pengabaian
Amanda Manopo memberikan performa yang sangat emosional sebagai Anika. Melalui aktingnya, kita bisa merasakan bagaimana transisi seorang istri dari penuh semangat menjadi penuh luka. Kekecewaan Anika tidak datang dari kekerasan fisik, melainkan dari pengabaian yang halus namun menyakitkan.
Anika harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya enggan tidur seranjang dengannya. Lebih dari itu, Arman bahkan menolak menjadi imam saat shalat—sebuah simbol spiritual yang sangat penting dalam pernikahan Muslim. Anika merasa dirinya hanyalah “makmum” tambahan yang keberadaannya tidak pernah benar-benar diharapkan untuk memimpin doa bersama. Amanda berhasil membawakan karakter wanita yang mencoba tetap tegar dan setia, meski hatinya hancur setiap kali melihat Arman menatap foto Leila dengan penuh kerinduan.
Sosok Leila: Kehadiran yang Hidup dalam Kenangan
Revalina S. Temat, meski berperan sebagai sosok yang telah wafat, menjadi poros penting dalam narasi film ini. Kenangan tentang Leila digambarkan begitu kuat. Kamar pribadi Arman yang masih dipenuhi barang-barang Leila, aroma parfum yang masih tersisa, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil Leila yang selalu dibandingkan Arman dengan Anika.
Leila adalah “makmum” pertama yang tak tergantikan. Kehadirannya melalui flashback memberikan gambaran kepada penonton mengapa Arman begitu sulit untuk move on. Karakter Leila digambarkan sebagai wanita yang sangat sempurna di mata Arman, sehingga Anika merasa seolah-olah ia sedang berkompetisi dengan bidadari yang mustahil dikalahkan. Ini adalah bentuk teror psikologis yang halus; persaingan dengan seseorang yang sudah tiada.
Dilema Arman, Mencintai yang Ada dan Mengenang yang Tiada

Fedi Nuril kembali memerankan karakter suami dalam drama religi, namun dengan nuansa yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Sebagai Arman, ia bukan pria yang ingin berpoligami, namun ia terjebak dalam cinta yang terlalu besar pada mendiang istrinya.
Arman adalah representasi dari pria yang mengalami depresi berkepanjangan akibat kehilangan. Ketidakmampuannya untuk menjadi imam bagi Anika bukan karena ia tidak beriman, melainkan karena ia merasa jiwanya telah “patah” bersama kepergian Leila. Pergulatan batin Arman menjadi sisi lain yang menarik: bisakah seorang pria membagi hatinya secara adil antara istri yang masih bernapas di sampingnya dengan istri yang tetap hidup dalam memori? Film Drama 1 Imam 2 Makmum ini dengan jujur memotret betapa egoisnya duka jika tidak dikelola dengan bijak.
Simbolisme “1 Imam 2 Makmum” dalam Ibadah dan Hidup
Judul film 1 Imam 2 Makmum ini mengandung makna simbolis yang mendalam. Dalam shalat jamaah, imam hanya memiliki satu saf makmum di belakangnya. Namun, dalam batin Arman, ada dua makmum yang ia pimpin. Anika hadir secara fisik di belakangnya, sementara Leila hadir secara spiritual dalam pikirannya.
Penolakan Arman untuk mengimami Anika adalah bentuk protes batinnya terhadap takdir. Ia merasa tidak layak memimpin seseorang yang baru sementara hatinya masih tertinggal pada orang yang lama. Bagi penonton, adegan-adegan di atas sajadah dalam film ini menjadi momen paling mengharukan, di mana kesunyian berbicara lebih keras daripada kata-kata. Film ini mengingatkan bahwa pernikahan dalam Islam bukan hanya soal kontrak fisik, tetapi penyatuan dua jiwa di hadapan Sang Pencipta.
Realitas Kisah Nyata, Luka yang Relate bagi Banyak Orang

Karena terinspirasi dari kisah nyata, 1 Imam 2 Makmum terasa sangat membumi. Banyak pasangan yang memasuki pernikahan baru dengan status janda atau duda mengalami masalah serupa. Film Drama ini tidak mencoba mendramatisasi keadaan secara berlebihan, melainkan memotret keseharian yang pahit: makan malam yang sunyi, kamar yang terkunci, dan air mata yang jatuh dalam diam.
Konflik semakin memuncak ketika Anika menemukan bahwa Arman secara rahasia masih merayakan hari-hari penting Leila seolah istrinya itu masih hidup. Ini adalah titik di mana Anika harus memilih: bertahan dalam ketidakhadiran, atau pergi demi harga diri. Penonton akan diajak untuk berempati pada posisi Anika yang merasa tak dianggap, namun tetap mencoba mencari celah untuk mencintai suaminya.
Estetika Visual dan Atmosfer Film
Sutradara film 1 Imam 2 Makmum ini berhasil membangun atmosfer yang melankolis namun indah. Penggunaan pencahayaan yang redup di dalam rumah Arman menggambarkan suasana hati yang mendung dan penuh rahasia. Kontras dengan adegan-adegan flashback Leila yang bercahaya terang, menunjukkan bagaimana Arman melihat masa lalunya sebagai masa emas yang lebih indah dari masa kini.
Skoring musik yang didominasi denting piano dan instrumen syahdu menambah kedalaman emosi dalam setiap dialog. Film ini tidak membutuhkan banyak lokasi luar ruangan, karena penjara emosional yang dialami Anika dan Arman justru terbangun di dalam ruang-ruang sempit di rumah mereka sendiri.
Perjalanan Menuju Ikhlas
1 Imam 2 Makmum bukan sekadar film tentang perebutan hati, melainkan tentang perjalanan menuju sebuah keikhlasan. Keikhlasan bagi Arman untuk melepas yang sudah pergi, dan keikhlasan bagi Anika untuk menerima bahwa ia mencintai pria yang tidak utuh.
Film 1 Imam 2 Makmum ini memberikan pesan moral yang kuat bahwa mencintai kenangan adalah hal yang manusiawi, namun membiarkan kenangan itu menyakiti orang yang hidup adalah sebuah kesalahan. Pada akhirnya, Anika dan Arman harus belajar bahwa dalam rumah tangga, imam harus berani menatap ke depan agar makmum di belakangnya tidak kehilangan arah. Apakah Anika mampu bertahan? Atau akankah kenangan Leila tetap menjadi pemenang dalam persaingan hati ini? Jawabannya terletak pada seberapa besar keberanian mereka untuk saling memaafkan masa lalu.
