Lastworkingday – Industri perfilman Indonesia kembali dikejutkan dengan sebuah karya horor-fantasi yang tidak biasa. Bukan sekadar mengandalkan jump scare atau sosok hantu berbaju putih, film “Para Perasuk” hadir dengan premis yang sangat berani dan segar. Disutradarai oleh sineas berbakat yang mengeksplorasi sisi gelap budaya lokal, film ini membawa penonton masuk ke dalam sebuah desa fiktif bernama Desa Latas, di mana batas antara realitas manusia dan alam roh menjadi sangat kabur.
Film ini menarik perhatian luas sejak tahap produksinya karena memasangkan aktor muda berbakat Angga Yunanda dengan diva legendaris internasional, Anggun C. Sasmi. Kolaborasi lintas generasi ini menjanjikan kedalaman akting yang luar biasa dalam sebuah narasi yang menggabungkan unsur sosiologi, tradisi mistis, dan ketegangan psikologis.
Desa Latas, Tempat Tradisi Kerasukan Menjadi Pesta Rakyat

Dalam film ini, Desa Latas bukanlah desa yang takut akan hal-hal gaib. Sebaliknya, warga Desa Latas memiliki hubungan yang sangat intim dengan roh-roh halus. Desa ini digambarkan memiliki sebuah tradisi unik yang diwariskan turun-temurun: Tradisi Kerasukan Roh Binatang.
Berbeda dengan film horor kebanyakan yang menggambarkan kerasukan sebagai sebuah penderitaan atau gangguan, di Desa Latas, kerasukan adalah sebuah “pesta kesenangan bersama”. Setiap musim tertentu, warga desa berkumpul untuk memanggil roh-roh binatang—seperti harimau, ular, atau babi hutan—untuk masuk ke dalam tubuh mereka. Bagi warga setempat, kehilangan kesadaran diri dan membiarkan insting purba binatang menguasai raga adalah sebuah bentuk katarsis, pelarian dari rutinitas hidup yang berat, sekaligus cara mereka bersenang-senang.
Fenomena ini digambarkan secara visual dengan sangat sinematik; tarian-tarian erotis, gerakan-gerakan liar, hingga suara geraman binatang yang memenuhi malam-malam di Desa Latas. Namun, di balik kemeriahan pesta tersebut, tersimpan risiko besar yang mengancam keseimbangan antara dua dunia.
Ambisi Bayu dan Perjalanan Menjadi Perasuk Terpilih
Tokoh sentral dalam cerita ini adalah Bayu, yang diperankan oleh Angga Yunanda. Bayu bukan sekadar pemuda desa biasa; ia memiliki ambisi besar yang berbeda dari rekan-reman seusianya. Jika pemuda lain hanya melihat kerasukan sebagai hiburan sesaat, Bayu melihatnya sebagai sebuah pencapaian spiritual tertinggi.
Bayu terobsesi untuk menjadi Para Perasuk Terbaik. Dalam hierarki sosial Desa Latas, menjadi perasuk terbaik berarti memiliki kemampuan untuk menampung roh yang paling kuat tanpa kehilangan kendali atas jati dirinya. Ambisi Bayu didorong oleh latar belakang pribadinya yang penuh luka; ia ingin membuktikan kekuatannya kepada desa yang sering meremehkannya.
Peran Angga Yunanda di sini sangat menantang. Ia harus bertransformasi dari seorang pemuda ambisius menjadi sosok yang memiliki gestur binatang yang mengerikan namun tetap karismatik. Intensitas akting Angga diuji melalui adegan-adegan ritual yang menguras fisik, di mana ia harus menunjukkan perubahan ekspresi wajah yang ekstrem saat roh-roh mulai memasuki raganya.
Bimbingan Guru Asri, Peran Ikonik Anggun C Sasmi

Setiap murid yang ambisius membutuhkan guru yang bijaksana namun misterius. Di sinilah Guru Asri muncul, diperankan oleh Anggun C. Sasmi. Guru Asri adalah tetua desa sekaligus penjaga gerbang mistis Desa Latas. Ia adalah sosok yang disegani sekaligus ditakuti karena pengetahuannya yang luas mengenai dunia perasukan.
Guru Asri melihat potensi besar sekaligus bahaya yang mengintai di dalam diri Bayu. Di bawah bimbingannya yang keras dan penuh rahasia, Bayu diajarkan teknik-teknik perasukan kuno yang sudah lama ditinggalkan. Guru Asri tidak hanya mengajarkan cara memanggil roh, tetapi juga cara “menjinakkan” kekuatan tersebut agar tidak memakan sang pemilik tubuh.
Kehadiran Anggun C. Sasmi memberikan warna elegan namun kelam dalam Film Para Perasuk ini. Karakter Guru Asri digambarkan sebagai wanita yang tenang namun memiliki aura kekuasaan yang absolut. Hubungan mentor-mentee antara Bayu dan Guru Asri menjadi jantung emosional film para perasuk ini, di mana batas antara kasih sayang seorang guru dan manipulasi mistis mulai menjadi abu-abu.
Krisis Desa Latas: Ketika Pesta Berubah Menjadi Malapetaka
Alur cerita semakin memuncak ketika Desa Latas dilanda sebuah krisis hebat. Roh-roh yang biasanya ramah dan bisa diajak berkompromi tiba-tiba berubah menjadi liar dan menolak untuk keluar dari tubuh inangnya. Pesta kesenangan yang seharusnya berakhir dengan tawa kini berubah menjadi teror berdarah.
Warga desa mulai kehilangan kendali. Banyak yang terjebak dalam kondisi kerasukan permanen, bertingkah seperti binatang buas yang menyerang sesama warga. Krisis ini diyakini terjadi karena adanya ketidakseimbangan kosmik atau pelanggaran janji kuno oleh salah satu warga desa.
Bayu, sebagai murid terbaik Guru Asri, memikul tanggung jawab besar. Ambisinya untuk menjadi para perasuk terbaik kini berubah menjadi misi penyelamatan. Ia harus melakukan ritual perasukan yang paling berbahaya—yang dikenal sebagai ritual pengorbanan raga—untuk menarik semua roh liar kembali ke tempat asalnya. Di sini, penonton akan diajak melihat sisi heroik Bayu yang harus mengorbankan kewarasannya demi melindungi warga desa dari kepunahan.
Pesan Moral dan Unsur Budaya di Balik Para Perasuk

Meskipun film ini dibungkus dengan unsur mistis dan horor, “Para Perasuk” sebenarnya membawa pesan moral yang mendalam tentang ambisi manusia dan hubungannya dengan alam. Film Para Perasuk ini menyentil fenomena masyarakat modern yang sering kali mencari “pelarian” instan dari realitas, yang dalam konteks Desa Latas digambarkan melalui pesta kerasukan.
Secara sosiologis, Film Drama ini juga mengeksplorasi bagaimana tradisi bisa menjadi pisau bermata dua; di satu sisi menjadi pemersatu warga, namun di sisi lain bisa menjadi bumerang jika disalahgunakan demi ego pribadi. Sutradara secara cerdas menggunakan metafora “binatang” untuk menunjukkan bahwa di dalam setiap manusia, ada sisi liar yang jika tidak dikelola dengan bijak, akan menghancurkan diri mereka sendiri.
Penggunaan dialek lokal, musik tradisional yang mencekam, serta desain produksi yang mendetail membuat Desa Latas terasa sangat nyata. Penonton tidak hanya menonton film, tetapi seolah-olah ditarik masuk ke dalam suasana desa yang lembap, gelap, dan penuh dengan bau dupa.
Sebuah Karya Horor yang Wajib Dinantikan
Film “Para Perasuk” dijanjikan menjadi standar baru bagi genre horor-fantasi di Indonesia. Dengan jajaran pemain kelas atas seperti Angga Yunanda dan Anggun C. Sasmi, ditambah dengan narasi yang unik tentang Desa Latas, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang komplit.
Ambisi Bayu untuk menjadi perasuk terbaik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan pencarian identitas di tengah kekacauan mistis. Apakah Bayu berhasil menyelamatkan desanya, atau justru ia akan tertelan oleh ambisinya sendiri dan menjadi bagian dari roh-roh binatang selamanya? Temukan jawabannya saat Film Para Perasuk ini tayang di bioskop kesayangan Anda.
