Lastworkingday – Industri perfilman horor Indonesia di tahun 2026 kembali mencatatkan sejarah baru dengan rilisnya karya fenomenal bertajuk “Film Kuyank”. Film ini bukan sekadar film horor biasa yang mengandalkan teknik jump scare untuk mengejutkan penonton. Sebaliknya, sang sutradara berhasil meramu sebuah tragedi romansa yang kelam dengan balutan mitologi Kalimantan yang sangat kental dan mencekam.
Dibintangi oleh aktor watak papan atas, Rio Dewanto, film ini mengeksplorasi sisi gelap manusia saat berhadapan dengan takdir yang tak terelakkan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai plot cerita, kedalaman karakter Badri, hingga bagaimana elemen budaya lokal “Kuyank” diangkat sebagai entitas yang lebih dari sekadar hantu, melainkan sebuah kutukan sistemik yang menghancurkan segalanya.
Sinopsis Plot, Badri dan Perjuangan Melawan Takdir

Kisah berpusat pada seorang pria bernama Badri (Rio Dewanto), seorang kontraktor sukses yang kembali ke kampung halaman sang istri, Sari, di pedalaman Kalimantan Tengah untuk memulai sebuah proyek pembangunan besar. Badri adalah sosok yang rasional dan tidak percaya pada takhayul. Baginya, cinta kepada Sari dan anak yang sedang dikandungnya adalah prioritas tunggal yang tak tergoyahkan.
Namun, kedatangan mereka bertepatan dengan kemunculan sebuah ramalan buruk dari tetua desa setempat. Ramalan tersebut menyebutkan bahwa rahim seorang wanita yang “bukan berasal dari tanah ini” akan menjadi incaran bagi mereka yang mempraktekkan ajian terlarang peninggalan leluhur. Badri awalnya menganggap remeh peringatan tersebut hingga suatu malam, ia menemukan tanda-tanda aneh pada tubuh Sari dan munculnya cahaya kemerahan yang melayang di sekitar rumah panggung mereka. Sejak saat itu, kehidupan rumah tangga yang harmonis perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang penuh dengan kecurigaan, ketakutan, dan pengkhianatan.
Transformasi Rio Dewanto sebagai Badri: Akting yang Menggetarkan
Rio Dewanto dalam Film Kuyank memberikan performa yang dianggap oleh banyak kritikus sebagai puncak kariernya di tahun 2026. Karakter Badri digambarkan mengalami degradasi mental yang luar biasa. Dari seorang pria yang tegap, penuh percaya diri, dan logis, Badri berubah menjadi sosok yang paranoid dan rapuh.
Penonton akan diajak merasakan frustrasi Badri saat ia harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan senjata fisik. Rio berhasil mengekspresikan duka yang mendalam tanpa banyak kata-kata. Matanya menggambarkan amarah sekaligus keputusasaan saat melihat cinta sejatinya, Sari, secara perlahan mulai terpengaruh oleh kekuatan gaib yang mengincar mereka. Adegan di mana Badri mencoba memburu entitas Film Kuyank di tengah hutan rimba hanya dengan sebilah mandau menjadi simbol perjuangan sia-sia manusia melawan kekuatan yang lebih tua dari peradaban itu sendiri.
Mitos Ajian Terlarang Film Kuyank, Mengupas Rahasia Kecantikan Abadi

Film ini memberikan perspektif baru terhadap sosok hantu Kuyank. Jika dalam banyak literatur Film Kuyank sering digambarkan sebagai setan yang haus darah, Film Kuyank BIoskop Indonesia” lebih menekankan pada aspek manusia di baliknya. Kuyank dalam film ini adalah hasil dari sebuah Ajian Terlarang yang dipelajari demi mencapai kecantikan abadi dan keawetmudaan.
Diceritakan bahwa pemegang ajian ini harus melepaskan organ tubuhnya setiap malam tertentu untuk mencari nutrisi dari janin manusia. Film ini berhasil membangun narasi yang menyedihkan bagi sang pelaku; mereka bukanlah monster sejak lahir, melainkan korban dari keserakahan dan ketakutan akan kematian. Ajian ini menjadi metafora bagi keserakahan manusia di dunia modern—bagaimana seseorang rela mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi yang semu. Visualisasi pelepasan kepala dan organ dalam dilakukan dengan efek praktis dan CGI yang sangat halus, memberikan kengerian yang sangat organik dan tidak berlebihan.
Sinematografi dan Latar: Keindahan Kalimantan yang Mistis
Salah satu kekuatan utama yang membuat penonton betah duduk selama dua jam di bioskop adalah sinematografinya. Pengambilan gambar dilakukan langsung di jantung hutan Kalimantan, memberikan kesan autentik dan megah. Hutan hujan tropis tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga sebagai karakter yang mengintimidasi.
Pohon-pohon raksasa, akar yang menjalar, dan kabut tebal yang menyelimuti perkampungan nelayan di tepi sungai menciptakan suasana yang “sesak.” Penggunaan warna-warna gelap dengan kontras cahaya obor yang kemerahan memberikan aura mistis yang kuat. Suara alam yang tajam, mulai dari derik serangga hingga suara air sungai yang mengalir, diatur sedemikian rupa untuk membangun ketegangan (suspense) bahkan sebelum hantu Kuyank itu sendiri muncul di layar. Sutradara sangat cerdik dalam memanfaatkan ruang gelap untuk membiarkan imajinasi penonton bekerja, menciptakan rasa takut akan hal-hal yang tidak terlihat.
Pesan Moral: Ketika Cinta Menyerah pada Ambisi dan Takhayul
Di balik genre horornya, “Film Kuyank (2026)” membawa pesan yang sangat relevan tentang relasi manusia. Film ini mengeksplorasi bagaimana sebuah hubungan yang kuat dapat hancur ketika kepercayaan mulai goyah oleh bisikan orang luar dan ketakutan yang tidak berdasar.
Kehancuran cinta Badri dan Sari bukan semata-mata karena kekuatan gaib, tetapi karena hilangnya rasionalitas dan masuknya kebencian ke dalam hati mereka. Film ini menyentil tentang bagaimana tradisi dan “ramalan buruk” seringkali digunakan oleh pihak tertentu untuk memecah belah dan mengucilkan pendatang. Tragedi yang dialami Badri adalah peringatan bahwa seringkali musuh terbesar manusia bukanlah hantu yang terbang di langit malam, melainkan kecurigaan yang tumbuh di dalam pikirannya sendiri.
Produksi dan Respon Publik Tahun 2026

Film Kuyank mendapatkan sambutan luar biasa di minggu pertama penayangannya di seluruh Indonesia. Kehadiran Rio Dewanto sebagai magnet utama terbukti efektif menarik penonton dari berbagai kalangan. Banyak yang memuji keberanian film ini untuk tetap setia pada akar budaya lokal tanpa harus terlihat kuno.
Dari sisi produksi, penggunaan teknologi audio Dolby Atmos terbaru membuat suara teriakan Kuyank terdengar seolah berada tepat di belakang telinga penonton. Hal ini memberikan pengalaman imersif yang jarang ditemukan di film horor lokal sebelumnya. Kritikus film internasional bahkan menyebut “Film Kuyank (2026)” sebagai representasi terbaik dari genre Folk Horror Indonesia yang layak bersaing di festival film bergengsi dunia seperti Sitges atau Sundance.
Kesimpulan
Flm Kuyank adalah sebuah perjalanan emosional yang mengerikan. Film ini berhasil menyeimbangkan antara kengerian visual dan kedalaman cerita drama. Melalui karakter Badri, kita diajarkan bahwa sekuat apa pun kita berusaha melindungi apa yang kita cintai, ada kekuatan-kekuatan—baik gaib maupun sosial—yang bisa merenggutnya dalam sekejap mata.
Bagi Anda penggemar film horor yang memiliki substansi dan performa akting kelas atas, film ini adalah tontonan wajib. Kehancuran cinta Badri akan meninggalkan perasaan sesak dan perenungan yang mendalam bagi siapa pun yang menontonnya.
