Lastworkingday – Sinema horor Indonesia kembali menggali luka lama dari catatan kriminalitas nyata yang pernah mengguncang publik. Kali ini, sutradara Sony F. Rimba mengangkat salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Kota Makassar ke layar lebar melalui film berjudul Karunrung 1995. Rilis pada 10 Juli 2025, film ini bukan sekadar tontonan horor biasa yang mengandalkan jump scare, melainkan sebuah hibrida antara slasher-thriller dan horor supranatural yang mencekam.
Film Karunrung 1995 ini mencoba memotret peristiwa berdarah di Jalan Karunrung pada Maret 1995, di mana satu keluarga dihabisi dengan keji. Dengan pendekatan narasi yang berani, Karunrung 1995 menyajikan visualisasi pembantaian yang eksplisit dan teror balas dendam yang tak terelakkan. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai film yang tengah menjadi perbincangan hangat ini.
Menghidupkan Kembali Tragedi Nyata Jalan Karunrung Makassar

Bagi warga Makassar, nama “Karunrung” membawa memori kolektif yang menyakitkan. Pada 12 Maret 1995, sebuah rumah di jalan tersebut menjadi saksi bisu pembantaian satu keluarga yang dilakukan secara terencana dan sangat sadis. Sony F. Rimba sebagai sutradara nampaknya sangat berhati-hati namun tegas dalam merekonstruksi atmosfer tahun 90-an di Makassar.
Film Karunrung 1995 ini berhasil membangun latar belakang sosial yang kuat. Penonton dibawa melihat bagaimana kondisi pasar tradisional dan dinamika premanisme di masa itu. Penggunaan dialek lokal dan detail set yang autentik membuat nuansa tragedi ini terasa sangat dekat dan nyata, seolah-olah penonton ditarik kembali ke masa di mana garis polisi pertama kali dipasang di depan rumah keluarga Burhan yang malang.
Karakterisasi Uli: Potret Premanisme yang Dingin dan Kejam
Salah satu kekuatan utama film Karunrung 1995 ini terletak pada akting Cahya Ary Nagara yang memerankan Uli, pemimpin geng preman. Uli digambarkan bukan sebagai penjahat kartun yang banyak bicara, melainkan sosok yang dingin, kalkulatif, dan tidak memiliki empati. Ketajaman tatapan mata Cahya memberikan aura ancaman yang konstan sejak kemunculan pertamanya di layar.
Geng pimpinan Uli ini menjadi motor penggerak konflik utama. Mereka adalah tentara bayaran yang tidak peduli pada moral, selama ada uang yang cukup. Karakterisasi Uli mencerminkan sisi gelap kemiskinan dan kerasnya hidup di jalanan, di mana nyawa manusia bisa dihargai dengan tumpukan rupiah dari pengusaha hitam.
Sosok Hendra: Antagonis di Balik Layar yang Manipulatif
Di balik aksi brutal para preman, terdapat sosok Hendra yang diperankan oleh HM Isnan Dahir. Hendra adalah representasi dari keserakahan pebisnis yang merasa bisa membeli apa saja, termasuk nyawa pesaingnya atau siapa pun yang menghalangi jalannya. HM Isnan Dahir berhasil membawakan karakter yang tenang namun sangat manipulatif.
Kontras antara gaya hidup mewah Hendra dengan kekumuhan tempat tinggal para preman memberikan kritik sosial yang tajam. Hendra tidak mengotori tangannya sendiri dengan darah, namun ia adalah otak yang menyusun setiap langkah pembantaian. Ketegangan antara Hendra dan Uli dalam negosiasi “pekerjaan kotor” ini menjadi salah satu adegan paling intens yang membangun fondasi konflik di babak awal.
Visualisasi Pembantaian Keluarga Burhan yang Memilukan

Babak tengah Film Horor Karunrung 1995 ini adalah bagian yang paling sulit untuk disaksikan bagi penonton yang sensitif. Pembantaian keluarga Burhan (diperankan dengan penuh penjiwaan oleh Mahesa Dinsi) bersama istrinya, Farida, dan anak-anak mereka, ditampilkan dengan gaya thriller berdarah dingin.
Sony F. Rimba tidak ragu menunjukkan kekejaman yang terjadi di dalam rumah tersebut. Keputusasaan Burhan saat mencoba melindungi keluarganya digambarkan dengan sangat emosional. Penggunaan pencahayaan yang minim dan sinematografi yang terasa sesak menciptakan rasa klaustrofobik bagi penonton. Adegan ini menjadi kunci mengapa penonton nantinya akan merasa “puas” saat para pelaku mulai diteror oleh arwah korban.
Alana dan Andi: Investigasi Jurnalis yang Mengungkap Tabir
Di tengah kepanikan publik dan misteri yang menyelimuti kasus tersebut, muncul karakter Alana (diperankan oleh Fatimah Azahra) dan Andi (Agogo Violin). Alana adalah seorang jurnalis idealis yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan penyelidikan kepolisian.
Kehadiran duo jurnalis ini memberikan elemen detektif dalam film. Mereka membawa penonton untuk mengumpulkan kepingan teka-teki, mencari hubungan antara Hendra dan geng Uli. Chemistry antara Fatimah dan Agogo terasa natural, di mana Andi memberikan sentuhan keberanian lokal untuk mendukung ketajaman intuisi Alana. Investigasi mereka memberikan jeda dari adegan-adegan horor sekaligus memperkuat struktur cerita agar tidak sekadar menjadi film horor “balas dendam” biasa.
Elemen Horor: Arwah Penasaran yang Menuntut Keadilan
Setelah darah kering di lantai rumah Karunrung, elemen supranatural mulai masuk ke dalam narasi. Film Karunrung 1995 ini transisi dari crime-thriller murni menjadi horor balas dendam (vengeful spirit). Arwah keluarga Burhan tidak muncul dengan wajah hancur yang klise, melainkan dalam bentuk teror psikologis yang menyerang mental para pelaku.
Teror ini dimulai dari anggota geng Uli yang paling lemah secara mental. Suara tangis anak-anak di tengah malam dan bayangan Farida yang muncul di sudut mata menciptakan suasana paranoia yang hebat. Efek visual dan tata suara dalam fase ini layak diacungi jempol karena berhasil membangun ketegangan tanpa harus selalu berakhir dengan jump scare murahan.
Analisis Sinematografi Film Karunrung 1995 dan Estetika 90-an

Sony F. Rimba dan tim produksinya melakukan pekerjaan luar biasa dalam menciptakan estetika tahun 1995. Palet warna film yang cenderung kecokelatan dan grainy memberikan kesan nostalgia yang kelam. Penggunaan properti seperti mobil lama, pakaian, hingga gaya rambut karakter sangat konsisten dengan zaman tersebut.
Sinematografinya juga sangat dinamis. Pada adegan pembantaian, kamera cenderung statis untuk memberikan kesan observasional yang mengerikan. Namun, saat teror arwah dimulai, gerakan kamera menjadi lebih tidak stabil untuk mencerminkan kegoncangan mental para pelaku yang mulai gila karena ketakutan.
Balas Dendam Berdarah: Puisi Keadilan bagi yang Terzalimi
Tema utama film ini adalah “Keadilan yang tertunda akan dicari sendiri oleh alam”. Film ini menunjukkan bahwa hukum manusia mungkin bisa dibeli oleh orang sekaya Hendra, namun ada hukum lain yang tidak bisa disuap. Proses kematian para pelaku satu per satu dirancang dengan tingkat kreativitas horor yang tinggi.
Setiap kematian pelaku mencerminkan cara mereka menyiksa keluarga Burhan. Ini adalah bentuk poetic justice yang sering ditemukan dalam sub-genre revenge horror. Penonton yang sejak awal merasa berempati pada keluarga Burhan akan merasakan katarsis ketika melihat para preman keji tersebut memohon ampun kepada entitas yang sudah tidak lagi mengenal kata maaf.
Mengapa Film Karunrung 1995 Wajib Ditonton?
Karunrung 1995 adalah sebuah pencapaian baru dalam genre film horor-thriller Indonesia. Ia berhasil menyeimbangkan antara penghormatan terhadap sejarah nyata dengan dramatisasi filmis yang menghibur namun tetap memberikan pesan moral. Film ini mengingatkan kita bahwa kejahatan sesadis apa pun akan selalu meninggalkan jejak, baik di dunia nyata maupun di dunia lain.
Kelebihan:
-
Akting Cahya Ary Nagara sebagai Uli yang sangat kuat.
-
Rekonstruksi latar waktu 1995 yang sangat detail dan autentik.
-
Alur cerita yang rapi, menggabungkan investigasi jurnalis dan horor balas dendam.
-
Pesan moral yang mendalam tentang dampak dari kekuasaan yang zalim.
Kekurangan:
-
Beberapa adegan kekerasan mungkin terlalu eksplisit bagi sebagian penonton.
-
Durasi investigasi jurnalis di pertengahan film terasa sedikit melambat sebelum memuncak kembali.
Secara keseluruhan, Karunrung 1995 adalah film yang akan membekas di ingatan. Ia bukan hanya tentang hantu yang menakut-nakuti, tapi tentang luka sebuah kota dan keluarga yang menuntut untuk diingat. Bagi Anda pencinta film horor berkualitas dengan dasar cerita yang kuat, film Karunrung 1995 ini tidak boleh dilewatkan.
