Lastworkingday – Kehilangan adalah satu-satunya kepastian yang paling ditakuti oleh setiap manusia. Namun, bagaimana jika kehilangan itu datang secara tiba-tiba, merenggut nyawa seorang anak sulung yang menjadi tumpuan harapan, dan meninggalkan lubang menganga di tengah keluarga yang tadinya harmonis? Inilah premis emosional yang diangkat oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja dalam karya terbarunya, “Mungkin Kita Perlu Waktu” (2025). Film ini bukan sekadar drama keluarga biasa; ia adalah sebuah studi karakter yang mendalam tentang bagaimana duka yang tidak terkomunikasikan dapat menjadi racun yang melumpuhkan.
Melalui karakter Restu (Lukman Sardi), Kasih (Sha Ine Febriyanti), dan sang anak bungsu, Ombak (Bima Azriel), penonton diajak menyelami labirin emosi pasca kematian Sarah. Film ini secara artistik menggambarkan bahwa setiap orang memiliki “jam waktu” dukanya masing-masing, yang sering kali tidak berdetak secara seragam. Di tengah kehampaan itu, Ombak muncul sebagai representasi paling rapuh: seorang suicide survivor yang berjuang di antara keinginan untuk tetap hidup dan tarikan gravitasi trauma yang begitu kuat.
Tahap Penolakan, Membeku di Tengah Puing Keharmonisan

Tahap pertama dari five stages of grief adalah penolakan. Dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu ini, penolakan tidak selalu tampil dalam bentuk teriakan “ini tidak mungkin terjadi,” melainkan dalam bentuk keheningan yang mencekam di meja makan. Restu, sang ayah, mencoba memerankan figur kepala keluarga yang tegar. Ia berusaha menjaga rutinitas seolah-olah fondasi rumah mereka tidak sedang runtuh.
Penolakan ini adalah mekanisme pertahanan diri alami agar jiwa tidak langsung hancur saat menerima informasi yang terlalu menyakitkan. Restu memilih untuk sibuk, mengubur emosinya di balik tanggung jawab, dan menolak mengakui bahwa keluarga mereka sudah tidak lagi sama. Bagi Restu, mengakui kerapuhan berarti mengakui kekalahannya sebagai pelindung keluarga. Namun, penolakan yang berkepanjangan justru menjadi tembok pertama yang memutus arus komunikasi dengan istri dan anaknya.
Amarah (Anger): Proyeksi Luka yang Salah Sasaran
Ketika kenyataan mulai merembes masuk, rasa sakit itu sering kali berubah menjadi kemarahan. Dalam “Mungkin Kita Perlu Waktu“, amarah ini tidak meledak-ledak secara fisik, melainkan tampil dalam bentuk sinisme dan ketegangan pasif-agresif antara Restu dan Kasih. Mereka mulai saling menyalahkan secara tersirat—siapa yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan Sarah, atau siapa yang paling tidak peduli pada perasaan pasangannya.
Amarah adalah cara ego untuk menutupi rasa sakit yang terlalu dalam. Kasih, yang merasa kehilangan separuh jiwanya, memproyeksikan amarahnya pada keadaan, sementara Ombak merasa marah pada dirinya sendiri karena masih hidup sementara kakaknya sudah tiada. Amarah ini menciptakan jarak yang semakin lebar; rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi medan perang dingin di mana setiap kata bisa menjadi pemicu luka baru.
Tawar-menawar (Bargaining): Melarikan Diri ke Jalan Spiritual
Tahap tawar-menawar dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu ini direpresentasikan dengan sangat apik melalui keputusan Kasih untuk pergi Umrah. Di tengah duka yang tak tertahankan, Kasih mencoba melakukan “negosiasi” dengan Sang Pencipta. Ia berharap dengan mendekatkan diri pada Tuhan di tanah suci, rasa sakitnya akan diangkat, atau setidaknya ia bisa menemukan jawaban mengapa Sarah harus pergi.
Tawar-menawar adalah upaya manusia untuk mendapatkan kembali kontrol atas situasi yang tidak terkendali. Namun, pelarian Kasih ke ranah spiritual justru membuat Ombak merasa ditinggalkan untuk kedua kalinya. Saat ibunya mencari kedamaian di kejauhan, Ombak berjuang sendirian dengan serangan paniknya di rumah yang terasa asing. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan niat baik untuk pulih bisa menjadi bumerang jika dilakukan tanpa mempertimbangkan mereka yang juga sedang terluka di sisi kita.
Depresi, Kehampaan di Kamar yang Tertutup

Depresi adalah inti dari konflik batin dalam keluarga ini. Teddy Soeriaatmadja menggunakan visual yang dingin dan ruang-ruang sempit untuk menggambarkan betapa sesaknya depresi yang dialami Ombak. Sebagai seorang anak yang kehilangan kakak sekaligus kehilangan atensi orang tuanya, Ombak jatuh ke dalam lubang depresi yang sangat dalam.
Ia mengalami serangan panik yang melumpuhkan, di mana udara seolah hilang dan dunia terasa runtuh. Di tahap ini, duka bukan lagi soal kesedihan, melainkan soal kehampaan. Ombak tidak lagi menangis; ia hanya diam, menatap kosong, dan merasa bahwa keberadaannya tidak lagi berarti. Depresi inilah yang kemudian membawanya pada titik nadir sebagai seorang suicide survivor—seseorang yang pernah mencoba atau memiliki intensi untuk mengakhiri hidupnya namun tetap bertahan, memikul beban rasa bersalah yang luar biasa.
Penerimaan (Acceptance): Langkah Kecil Menuju Pemulihan
Penerimaan bukanlah akhir dari duka, melainkan awal dari kemampuan untuk hidup berdampingan dengan luka tersebut. Dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu ini, tahap penerimaan tidak datang secara instan atau melalui akhir yang bahagia secara klise. Penerimaan muncul perlahan ketika Restu, Kasih, dan Ombak mulai menyadari bahwa mereka tidak bisa pulih jika terus terasing satu sama lain.
Menerima berarti mengakui bahwa Sarah telah tiada, dan itu menyakitkan, namun hidup harus terus berjalan dengan cara yang berbeda. Penerimaan dalam Film Drama Keluarga Mungkin Kita Perlu Waktu digambarkan sebagai keberanian untuk mulai berbicara kembali, meskipun kata-kata yang keluar masih terasa berat dan kaku. Ini adalah momen di mana mereka berhenti mencoba menjadi “normal” seperti dulu dan mulai menerima “normal baru” yang penuh dengan bekas luka.
Luka Batin Suicide Survivor: Beban Rasa Bersalah yang Tak Terlihat
Istilah suicide survivor dalam konteks Ombak merujuk pada perjuangannya bertahan hidup di tengah dorongan untuk menyerah. Luka batin seorang survivor sangat kompleks karena sering kali disertai dengan survivor’s guilt—rasa bersalah mengapa ia yang selamat atau mengapa ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah tragedi.
Ombak merasa dirinya adalah beban bagi orang tuanya yang sudah hancur. Setiap kali ia melihat tatapan sedih ayahnya atau ruang kosong di hati ibunya, ia merasa seolah-olah ia adalah pengingat akan kegagalan keluarga mereka. Luka ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata penyemangat sederhana; ia membutuhkan ruang aman di mana ia boleh merasa tidak baik-baik saja tanpa dihakimi sebagai sosok yang lemah.
Kehadiran Aleiqa di FIlm Mungkin Kita Perlu Waktu, Pertemuan Dua Jiwa yang Retak

Di tengah kegelapan yang dialami Ombak, muncul Aleiqa (Tissa Biani). Sebagai pengidap gangguan bipolar, Aleiqa membawa perspektif yang berbeda tentang penderitaan mental. Pertemuan mereka bukanlah romansa remaja biasa, melainkan pertemuan antara dua orang yang sama-sama memahami apa rasanya “berperang” dengan pikiran sendiri setiap hari.
Aleiqa menjadi cermin bagi Ombak. Meskipun kehadiran Aleiqa menghadirkan kerumitan baru—mengingat kondisi emosionalnya yang fluktuatif—ia memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh orang tua Ombak: validasi. Melalui Aleiqa, Ombak belajar bahwa ia tidak sendirian dalam kegilaan dunia ini. Hubungan mereka menunjukkan bahwa terkadang, harapan baru tidak datang dari mereka yang “sehat,” melainkan dari sesama jiwa yang retak yang mencoba saling merekatkan.
Pentingnya Komunikasi: Memecah Keheningan yang Mematikan
Pesan sentral dari film “Mungkin Kita Perlu Waktu” adalah bahwa komunikasi adalah oksigen dalam sebuah keluarga. Tragedi kematian Sarah hanyalah pemicu; yang benar-benar menghancurkan keluarga Restu adalah putusnya kabel komunikasi. Ketika setiap anggota keluarga membangun benteng dukanya masing-masing, mereka justru saling mengasingkan diri.
Film Drama Keluarga ini mengingatkan kita bahwa diam tidak selalu emas dalam menghadapi trauma. Diam bisa menjadi ruang bagi kesalahpahaman untuk tumbuh subur. Restu yang tegar dianggap tidak peduli oleh Kasih, sementara Kasih yang mencari Tuhan dianggap egois oleh Ombak. Hanya melalui komunikasi yang jujur, bahkan yang menyakitkan sekalipun, keluarga tersebut dapat mulai meruntuhkan tembok-tembok yang mereka bangun sendiri.
Menghargai Waktu dalam Proses Penyembuhan
Judul “Mungkin Kita Perlu Waktu” adalah sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia di hadapan takdir. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk cepat pulih atau menuntut duka untuk segera selesai. Penyembuhan adalah proses yang berliku, tidak linear, dan sering kali melelahkan.
Melalui perjalanan emosional keluarga Restu, kita diajak untuk lebih berempati pada mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mental dan luka batin. Film Mungkin Kita Perlu Waktu ini adalah pengingat yang kuat bahwa meskipun waktu mungkin tidak benar-benar menghapus luka, waktu memberikan kita ruang untuk belajar bagaimana membawa luka tersebut tanpa harus hancur karenanya. Bagi para suicide survivor dan mereka yang kehilangan, pesan film Mungkin Kita Perlu Waktu ini jelas: tidak apa-apa untuk perlu waktu, asalkan kita tidak berhenti mencoba untuk saling menemukan kembali di tengah kegelapan.
“Mungkin Kita Perlu Waktu” adalah refleksi mendalam tentang kemanusiaan. Dengan akting memukau dari Lukman Sardi dan Sha Ine Febriyanti, serta performa emosional dari Bima Azriel, film Mungkin Kita Perlu Waktu ini berhasil memotret lima tahap berduka dengan sangat manusiawi. Ia mengajarkan kita bahwa di balik setiap tragedi, selalu ada celah cahaya yang bisa masuk—asalkan kita memiliki keberanian untuk membuka pintu komunikasi dan memberikan waktu bagi jiwa untuk bernapas kembali.
