Lastworkingday – Industri perfilman Indonesia kembali berani menyentuh luka lama sejarah kelam bangsa melalui karya terbaru berjudul “Pembantaian Dukun Santet” (2025). Disutradarai oleh tangan dingin Azhar Kinoi Lubis, film ini tidak hanya menjual kengerian visual khas genre horor-thriller, tetapi juga melakukan bedah sosial terhadap salah satu peristiwa paling traumatis di Jawa Timur: Tragedi Banyuwangi 1998.
Mengambil inspirasi dari utas (thread) viral di platform X (Twitter) milik akun @jeropoint, film ini mencoba merajut kepingan fakta sejarah dengan dramatisasi yang mencekam. Melalui sudut pandang seorang santri bernama Satrio, penonton diajak menyelami labirin fitnah, histeria massa, dan teror mistis yang pernah melumpuhkan akal sehat masyarakat di penghujung era Orde Baru.
Latar Belakang Sejarah Film Pembantaian Dukun Santet, Mengingat Kembali Kelamnya Banyuwangi 1998

Untuk memahami bobot cerita dalam Film Pembantaian Dukun Santet ini, kita harus menengok kembali apa yang terjadi pada tahun 1998. Di tengah transisi politik nasional yang karut-marut, Kabupaten Banyuwangi didera teror pembunuhan massal yang menyasar orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Ironisnya, korban yang jatuh bukan hanya mereka yang diduga mempraktikkan ilmu hitam, tetapi juga para tokoh agama, guru mengaji, dan warga sipil tidak bersalah.
Film Pembantaian Dukun Santet ini dengan sangat hati-hati membangun atmosfer tahun 1998 yang penuh ketidakpastian. Isu mengenai munculnya sosok “Ninja”—sekelompok orang berpakaian hitam yang memiliki kemampuan bela diri tinggi dan menyerang secara sistematis—menjadi inti dari horor nyata yang diangkat. Azhar Kinoi Lubis berhasil menangkap kegelisahan sosiopolitik masa itu, di mana kepercayaan antarwarga terkikis oleh kecurigaan dan desas-desus yang tidak berdasar.
Sinopsis Utama: Perjuangan Satrio di Tengah Badai Fitnah
Cerita berfokus pada Satrio (Kevin Ardilova), seorang pemuda santun yang menghabiskan waktunya di sebuah pesantren di pelosok Jawa Timur. Kehidupan religius yang tenang mendadak berubah menjadi neraka saat desa mereka didera isu santet. Satu per satu warga ditemukan tewas secara tidak wajar, memicu kemarahan massa yang tidak terkendali.
Puncak konflik terjadi ketika sekelompok orang bertopeng menyerang pesantren tempat Satrio bernaung. Dalam semalam, pesantren yang seharusnya menjadi tempat perlindungan berubah menjadi ladang pembantaian. Satrio menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana guru-guru yang ia hormati dituduh sebagai dukun dan dieksekusi secara brutal. Film Pembantaian Dukun Santet ini menggambarkan dengan sangat gamblang bagaimana garis antara penegakan keadilan dan tindakan kriminal menjadi kabur akibat amuk massa.
Karakter Satrio: Simbol Kepolosan yang Terenggut Teror
Kevin Ardilova memberikan performa yang sangat emosional sebagai Satrio. Karakter ini mewakili generasi muda yang terjebak dalam dosa masa lalu generasi sebelumnya. Satrio bukan sekadar saksi bisu; ia adalah korban dari sistem sosial yang runtuh. Trauma yang ia alami saat melihat pesantrennya luluh lantak memaksa Satrio untuk tumbuh dewasa lebih cepat dari waktunya.
Dalam pelariannya menyelamatkan diri dan orang tuanya, Satrio bertransformasi dari seorang santri yang pasif menjadi sosok investigator yang nekat. Ia harus memilah mana kawan dan mana lawan di saat semua orang tampak memakai topeng, baik secara harfiah maupun kiasan. Kevin berhasil menunjukkan transisi emosi dari rasa takut yang melumpuhkan hingga kemarahan yang mendorongnya untuk mencari kebenaran.
Estetika Horor dan Thriller Azhar Kinoi Lubis

Sebagai sutradara yang sudah berpengalaman dalam genre horor, Azhar Kinoi Lubis memberikan sentuhan yang berbeda dalam Film Horor Pembantaian Dukun Santet. Alih-alih mengandalkan jump scare murahan, ia membangun kengerian melalui atmosfer yang menyesakkan (atmospheric horror). Penggunaan palet warna yang suram dan sinematografi yang menonjolkan bayangan menciptakan perasaan bahwa bahaya selalu mengintai di balik kegelapan.
Unsur thriller dalam film ini justru terasa lebih mengerikan daripada unsur mistisnya. Adegan pengejaran di tengah perkebunan kelapa sawit dan penggerebekan rumah-rumah warga digarap dengan tensi tinggi. Penonton tidak hanya ditakut-takuti oleh kemungkinan adanya makhluk halus, tetapi lebih kepada kebiadaban manusia yang bisa lebih kejam daripada setan manapun ketika digerakkan oleh kebencian.
Menelusuri Jejak “Ninja” dan Kelompok Bertopeng
Salah satu elemen paling ikonik sekaligus traumatis dari tragedi 1998 adalah kemunculan kelompok berpakaian hitam yang dijuluki “Ninja”. Film ini menghadirkan sosok-sosok ini sebagai antagonis utama yang misterius. Mereka bergerak dalam kegelapan, memiliki daftar target yang spesifik, dan mengeksekusi korbannya dengan cara yang terorganisir.
Keberadaan kelompok bertopeng ini memicu pertanyaan besar dalam alur cerita: Apakah mereka benar-benar warga yang marah, atau ada kekuatan gelap di belakang layar yang menggerakkan mereka? Satrio menemukan bahwa serangan-serangan tersebut memiliki pola yang terlalu rapi untuk sekadar amukan massa spontan. Investigasi Satrio membawa penonton pada teori konspirasi yang menyentuh ranah balas dendam pribadi dan manipulasi politik.
Konflik Sosial: Histeria Massa dan Tuduhan Palsu
“Pembantaian Dukun Santet” adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah fitnah bisa menyebar lebih cepat daripada api. Film Pembantaian Dukun Santet ini memperlihatkan bagaimana sebuah kata “santet” bisa menjadi vonis mati bagi siapa saja. Histeria massa digambarkan sebagai entitas yang menakutkan—kumpulan orang-orang yang kehilangan kemanusiaannya demi sebuah “pembersihan” yang mereka yakini benar.
Dinamika sosial dalam desa digambarkan retak. Tetangga yang dulunya saling menyapa kini saling lapor dan saling tuduh. Provokator menggunakan ketakutan warga akan ilmu hitam untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap menghalangi kepentingan tertentu. Bagian ini memberikan pesan moral yang kuat tentang betapa berbahayanya jika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan lebih memilih jalur kekerasan berdasarkan prasangka.
Unsur Mistis, Antara Mitos dan Kenyataan Kelam

Meski berakar pada tragedi kemanusiaan, Film Horor ini tidak meninggalkan elemen horor mistis yang menjadi daya tarik bagi penonton Indonesia. Ada lapisan cerita yang menyentuh sejarah kelam keluarga Satrio yang berkaitan dengan praktik perdukunan di masa lampau. Rahasia ini menjadi kunci mengapa keluarganya turut menjadi sasaran.
Elemen mistis ini dihadirkan bukan sebagai pembenaran atas pembantaian tersebut, melainkan sebagai latar belakang yang memperumit konflik. Penonton akan diajak mempertanyakan: Apakah dukun santet itu benar-benar ada dan sedang membalas dendam, ataukah semua fenomena gaib itu hanyalah manifestasi dari rasa bersalah dan ketakutan kolektif masyarakat? Pergulatan antara rasionalitas dan takhayul ini menjadi bumbu yang menambah kedalaman naskah.
Adaptasi dari Thread Viral: Kekuatan Cerita Digital ke Seluloid
Kesuksesan Film Pembantaian Dukun Santet ini tidak lepas dari basis penggemar cerita @jeropoint di X. Thread tersebut sebelumnya telah memikat ribuan pembaca karena kemampuannya menceritakan detail-detail yang jarang diketahui publik mengenai sisi gelap Banyuwangi. Adaptasi layar lebar ini memberikan dimensi visual yang selama ini hanya ada di imajinasi pembaca.
Penulis naskah dan sutradara tampak berusaha setia pada detail-detail esensial dari utas tersebut, sembari menambahkan pengembangan karakter agar lebih solid untuk durasi film layar lebar. Pengaruh media sosial dalam industri film saat ini terbukti mampu mengangkat isu-isu sejarah yang sensitif menjadi konsumsi publik yang lebih luas, asalkan digarap dengan riset yang mendalam dan empati terhadap korban.
Pesan Kemanusiaan: Mengambil Pelajaran dari Masa Lalu
Di balik semua adegan berdarah dan teror yang disuguhkan, “Pembantaian Dukun Santet” membawa pesan kemanusiaan yang mendalam. Film Pembantaian Dukun Santet ini adalah sebuah pengingat bahwa fanatisme yang buta dan ketidaktoleranan hanya akan berujung pada tragedi. Luka yang ditinggalkan oleh peristiwa 1998 masih membekas bagi keluarga korban, dan film ini mencoba memberikan ruang bagi penonton untuk merefleksikan kembali nilai-nilai keadilan.
Satrio, pada akhirnya, menjadi simbol dari pencarian kebenaran di tengah kegelapan. Melalui perjuangannya, kita diajarkan bahwa mengungkap fakta—sepahit apa pun itu—jauh lebih berharga daripada mengikuti arus kebencian yang tidak berdasar. Film Pembantaian Dukun Santet ini ditutup dengan nada yang menggugah, mengajak kita untuk tidak melupakan sejarah agar kesalahan serupa tidak pernah terulang di masa depan.
