0 Comments

Lastworkingday – Film Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam mengolah narasi sejarah yang personal dan provokatif melalui karya terbaru sutradara Mouly Surya, “Perang Kota” (2025). Mengadaptasi novel klasik legendaris Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis, film ini bukan sekadar presentasi baku tembak di zaman revolusi. Lebih dari itu, “Perang Kota” adalah sebuah studi karakter yang intim tentang trauma, maskulinitas yang runtuh, dan pengkhianatan di tengah Jakarta tahun 1946 yang mencekam.

Dibintangi oleh deretan aktor papan atas seperti Chicco Jerikho, Ariel Tatum, dan Jerome Kurnia, film ini berhasil membawa penonton menyelami lorong-lorong gelap Jakarta pasca-proklamasi. Di mana kemerdekaan masih berupa angan-angan yang rapuh dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) masih menebar teror di setiap sudut kota. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai film yang mengguncang emosi ini.

Visi Artistik Mouly Surya, Menghidupkan Prosa Mochtar Lubis

Visi Artistik Mouly Surya, Menghidupkan Prosa Mochtar Lubis
Visi Artistik Mouly Surya, Menghidupkan Prosa Mochtar Lubis

Mouly Surya, yang sebelumnya sukses besar dengan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer. Dalam “Perang Kota“, Mouly tidak terjebak pada glorifikasi perang yang klise. Ia justru memilih pendekatan slow-burn yang menekankan pada detail-detail kecil: suara detak jam, hembusan napas yang berat, hingga bayangan di dinding rumah tua Jakarta.

Adaptasi dari novel Jalan Tak Ada Ujung ini terasa sangat setia pada esensi aslinya namun diberikan sentuhan sinematik modern. Mouly berhasil menerjemahkan kegelisahan eksistensial yang ditulis Mochtar Lubis ke dalam visual yang puitis sekaligus brutal. Jakarta tahun 1946 digambarkan sebagai kota yang lelah, kusam, dan penuh rahasia, menciptakan latar yang sempurna bagi konflik batin sang karakter utama.

Transformasi Chicco Jerikho sebagai Isa yang Rapuh

Penampilan Chicco Jerikho sebagai Isa adalah jantung dari film ini. Isa digambarkan sebagai seorang guru sekaligus veteran perang yang memikul beban trauma mendalam. Akibat kengerian yang ia saksikan di medan laga, Isa mengalami impotensi—sebuah metafora kuat tentang hilangnya kejantanan dan keberanian di tengah tuntutan untuk terus berjuang.

Chicco memberikan performa yang sangat subtil. Ia tidak meledak-ledak, namun tatapan matanya yang kosong dan gestur tubuhnya yang ragu-ragu menyampaikan ribuan kata tentang ketakutan. Penonton diajak merasakan betapa beratnya menjadi seorang “pahlawan” yang sebenarnya hanya ingin melarikan diri dari bayang-bayang kematian. Ini adalah salah satu akting terbaik Chicco yang menunjukkan spektrum emosi manusia yang paling rapuh.

Konflik Domestik yang Perih: Retaknya Hubungan Isa dan Fatimah

Di balik misi spionase dan ledakan, “Perang Kota” menyajikan drama rumah tangga yang menyayat hati. Fatimah (Ariel Tatum) adalah sosok istri yang terjebak dalam kesepian dan rasa haus akan kasih sayang yang tidak bisa diberikan oleh suaminya yang trauma. Ketidakmampuan Isa untuk berfungsi secara seksual menjadi pemicu keretakan yang semakin lebar.

Ariel Tatum tampil memukau sebagai Fatimah. Ia berhasil menampilkan dualitas karakter yang kompleks: seorang istri yang merasa bersalah namun juga merindukan gairah hidup. Hubungan mereka bukan lagi tentang cinta yang berbunga-bunga, melainkan tentang dua jiwa yang terasing di bawah satu atap, berusaha saling memahami namun selalu terhalang oleh tembok trauma dan rahasia.

Kehadiran Hazil di Film Perang Kota, Antara Idealisme dan Pengkhianatan

Kehadiran Hazil di Film Perang Kota, Antara Idealisme dan Pengkhianatan
Kehadiran Hazil di Film Perang Kota, Antara Idealisme dan Pengkhianatan

Jerome Kurnia memerankan Hazil, rekan seperjuangan Isa yang muda, tampan, dan penuh idealisme. Hazil adalah antitesis dari Isa; ia penuh gairah, tidak takut mati, dan pandai bermain biola. Namun, justru kehadirannya menjadi racun dalam kehidupan Isa. Perselingkuhan Hazil dengan Fatimah hingga mengakibatkan kehamilan menjadi titik balik emosional yang paling mengguncang dalam Film Perang Kota ini.

Hazil mewakili sisi gelap dari perjuangan. Ia membuktikan bahwa di balik seragam pejuang, tetap ada ego dan nafsu manusiawi yang tidak bisa diredam. Jerome Kurnia berhasil membawakan karakter ini tanpa membuatnya terlihat sebagai penjahat murni, melainkan sebagai manusia yang juga mencari pelarian di tengah kekacauan perang.

Misi Peledakan Bioskop Senen: Ketegangan yang Menghimpit

Secara teknis, elemen aksi dalam “Perang Kota” dieksekusi dengan sangat rapi. Misi utama Isa untuk meledakkan bioskop di Pasar Senen yang menjadi tempat berkumpulnya perwira Belanda dan sekutu menjadi puncak ketegangan. Penonton dibawa masuk ke dalam taktik gerilya kota yang penuh risiko.

Adegan-adegan sabotase ini tidak ditampilkan dengan gaya pahlawan super. Sebaliknya, Mouly Surya menonjolkan kecemasan, tangan yang gemetar saat memasang sumbu, dan ketakutan akan tertangkap. Ketegangan ini dibangun perlahan hingga mencapai klimaks yang memuakkan secara emosional, di mana kemenangan militer terasa tawar karena kekalahan pribadi yang dialami oleh Isa.

Representasi Jakarta 1946: Sinematografi dan Desain Produksi

Salah satu aspek yang patut diacungi jempol adalah desain produksi dan sinematografi film ini. Tim produksi berhasil merekonstruksi sudut-sudut Jakarta tempo dulu dengan sangat otentik. Penggunaan palet warna yang cenderung redup dan sepia memberikan kesan nostalgia yang kelam.

Detail pada kostum, senjata, hingga kendaraan operasional NICA memberikan kedalaman pada latar sejarahnya. Sinematografi yang banyak menggunakan teknik long take dan sudut pengambilan gambar yang sempit menciptakan rasa sesak (klaustrofobik), seolah-olah penonton ikut terjebak dalam persembunyian Isa di tengah kota yang dikepung musuh.

Metafora Ketakutan, Jalan yang Tak Ada Ujung

Metafora Ketakutan, Jalan yang Tak Ada Ujung
Metafora Ketakutan, Jalan yang Tak Ada Ujung

Judul novel aslinya, Jalan Tak Ada Ujung, menjadi tema sentral dalam Film Drama ini. Perang digambarkan bukan sebagai peristiwa yang memiliki titik akhir yang jelas, melainkan sebuah lingkaran penderitaan yang terus berputar. Bagi Isa, jalan perjuangannya tidak hanya melawan Belanda, tetapi melawan ketakutannya sendiri yang seolah tidak ada habisnya.

Film ini dengan berani mengeksplorasi konsep keberanian yang sebenarnya. Apakah keberanian adalah saat seseorang tidak merasa takut, atau saat seseorang yang sangat ketakutan tetap melangkah maju karena tidak punya pilihan lain? Eksplorasi filosofis ini membuat “Perang Kota” berada di level yang lebih tinggi dibandingkan film sejarah bertema kemerdekaan lainnya.

Sisi Kemanusiaan di Balik Seragam Pejuang

Seringkali film sejarah Indonesia terjebak pada penggambaran karakter hitam-putih: pejuang yang suci dan penjajah yang jahat. “Perang Kota” mendobrak tradisi tersebut. Film ini menunjukkan sisi manusiawi yang kelam dari para pejuang. Mereka bisa berkhianat, mereka bisa pengecut, dan mereka memiliki libido yang tidak bisa dipadamkan oleh semangat patriotisme.

Kejujuran dalam bercerita inilah yang membuat “Perang Kota” terasa sangat relevan dan mengguncang. Penonton diajak untuk melihat bahwa di balik kemerdekaan yang kita nikmati hari ini, ada ribuan jiwa yang hancur secara psikologis dan hubungan keluarga yang hancur lebur demi sebuah cita-cita besar.

Mahakarya Sinema Sejarah Modern

Secara keseluruhan, “Perang Kota” adalah sebuah mahakarya yang berhasil menyeimbangkan antara aksi sejarah dan kedalaman psikologis. Penampilan gemilang Chicco Jerikho, arahan jenius Mouly Surya, dan naskah yang kuat membuat film ini menjadi standar baru bagi film adaptasi sastra di Indonesia.

Film ini mungkin tidak memberikan rasa “nyaman” saat ditonton karena beban emosinya yang berat, namun itulah keindahannya. Ia memaksa kita untuk merenung tentang harga dari sebuah perjuangan dan luka yang tetap basah meski perang telah usai. “Perang Kota” adalah penghormatan yang layak bagi karya Mochtar Lubis dan sebuah pengingat bahwa musuh terbesar manusia seringkali bukan orang lain, melainkan isi kepalanya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts