Lastworkingday – Industri perfilman horor Indonesia kembali kedatangan karya terbaru yang menjanjikan ketegangan psikologis dan teror supernatural yang mencekam. Film berjudul “Lorong Kost” garapan sutradara Ganank Dera siap menyapa para pecinta adrenalin di bioskop mulai 26 Juni 2025. Mengambil latar belakang tempat yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat urban—yakni sebuah rumah kost—film ini mencoba menggali sisi gelap dari sebuah hunian murah yang menyimpan rahasia kelam di balik tembok-tembok tuanya.
Dengan jajaran pemeran berbakat seperti Larasati Zilly, Gibran Marten, hingga aktris senior Yati Surachman, “Lorong Kost” diprediksi akan menjadi salah satu sajian horor paling diperbincangkan di pertengahan tahun ini. Film ini tidak hanya menawarkan lompatan kaget (jump scare), tetapi juga narasi tentang keputusasaan ekonomi yang berujung pada terjebaknya seseorang dalam lingkaran mistis yang mematikan.
Premis Cerita Film Lorong Kost, Terjebak di Antara Kemiskinan dan Kengerian

Kisah “Lorong Kost” berpusat pada tokoh bernama Tika (Larasati Zilly), seorang wanita berusia 23 tahun yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Terhimpit oleh masalah ekonomi yang pelik di tengah kerasnya pusat kota, Tika terpaksa mencari hunian dengan harga yang sangat miring demi bisa bertahan hidup.
Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah rumah kost tua yang terletak di jantung kota. Meski sejak awal aura bangunan tersebut terasa ganjil dan mencekam, Tika mencoba mengabaikan instingnya demi penghematan pengeluaran. Namun, apa yang ia kira sebagai solusi atas masalah ekonominya justru menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar: sebuah teror yang tidak hanya mengancam akal sehatnya, tetapi juga nyawanya.
Kematian Misterius Tania: Pemicu Teror Berdarah
Suasana di dalam kost yang awalnya hanya terasa dingin dan sunyi berubah menjadi horor nyata setelah sebuah kejadian tragis menimpa salah satu penghuni lama bernama Tania. Secara mendadak dan misterius, Tania ditemukan tewas bunuh diri tak lama setelah Tika menempati kamar barunya.
Kematian Tania meninggalkan banyak tanda tanya bagi para penghuni lainnya. Tidak ada motif yang jelas mengapa wanita tersebut mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu tragis. Kejadian ini seolah menjadi “pintu pembuka” bagi entitas yang selama ini bersembunyi di balik lorong-lorong kost yang gelap. Bagi Tika, kematian Tania adalah peringatan pertama bahwa ia tidak benar-benar sendirian di dalam bangunan tua tersebut.
Sosok Tika: Perjuangan Larasati Zilly di Dunia Horor
Karakter Tika yang diperankan oleh Larasati Zilly merupakan nyawa utama dari film ini. Tika digambarkan sebagai representasi anak muda yang ambisius namun rentan karena situasi finansial. Akting Larasati diuji ketika ia harus bertransisi dari seorang wanita yang pragmatis menjadi sosok yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
Melalui karakter Tika, penonton akan diajak merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di tempat yang tidak menyambut kehadirannya. Larasati Zilly berhasil membawa kedalaman emosi, menunjukkan bahwa ketakutan terbesar manusia seringkali muncul saat mereka tidak memiliki tempat lain untuk pulang. Performa Larasati dalam film ini disebut-sebut akan menjadi salah satu pencapaian terbaiknya di genre horor.
Analisis Layout Kost Tua sebagai Elemen Teror

Sutradara Ganank Dera nampaknya sangat memahami bagaimana cara memaksimalkan lokasi syuting untuk menciptakan atmosfer yang klaustrofobik. Dalam Film Horor Lorong Kost, rumah kost bukan sekadar latar tempat, melainkan karakter itu sendiri. Lorong-lorong yang sempit, cahaya lampu yang temaram dan sering berkedip, serta pintu-pintu kayu yang berderit memberikan kesan bahwa bangunan ini memiliki “nyawa”.
Penggunaan sudut pengambilan gambar (camera angle) yang mengikuti langkah kaki Tika di lorong membuat penonton merasa seolah-olah ada sesuatu yang selalu mengintai di belakang punggung mereka. Desain produksi film ini berhasil mengubah tempat tinggal yang seharusnya menjadi zona nyaman menjadi labirin tanpa ujung yang dipenuhi bayangan-bayangan ganjil.
Teror Suara dan Mimpi Buruk yang Menghantui
Keunggulan “Lorong Kost” terletak pada penggunaan elemen audio yang sangat mendetail. Pasca kematian Tania, Tika mulai diteror oleh fenomena auditif yang mengganggu. Mulai dari langkah kaki misterius di atas plafon, suara perempuan yang menangis sesenggukan di tengah malam, hingga bisikan-bisikan tanpa wujud yang memanggil namanya.
Tak hanya itu, teror tersebut merambah ke dalam alam bawah sadar Tika melalui mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Mimpi-mimpi ini seolah menjadi potongan puzzle yang mencoba menceritakan sejarah gelap bangunan tersebut. Ganank Dera menggunakan teknik horor psikologis di sini, di mana batas antara realita dan halusinasi akibat kurang tidur dan tekanan mental mulai mengabur bagi Tika.
Jajaran Pemain Pendukung: Gibran Marten hingga Yati Surachman
Kekuatan akting dalam film ini didukung oleh kehadiran aktor dan aktris yang sudah berpengalaman. Gibran Marten hadir memberikan dinamika tersendiri dalam alur cerita, kemungkinan sebagai sosok yang akan membantu atau justru memperkeruh situasi yang dihadapi Tika. Sementara itu, kehadiran aktris legendaris Yati Surachman memberikan bobot tersendiri pada elemen misteri dalam film ini.
Yati Surachman, yang sering memerankan karakter dengan latar belakang kuat, nampaknya memegang kunci penting mengenai asal-usul kost tua tersebut. Selain mereka, kehadiran Amel Alvi, Nadhira Hill, dan pemeran lainnya menambah warna pada keberagaman karakter penghuni kost yang masing-masing memiliki rahasia tersendiri dan memilih untuk bungkam atas kejadian mistis yang menimpa mereka.
Misteri Masa Lalu, Rahasia Gelap di Balik Dinding Kost

Seiring berjalannya cerita, “Lorong Kost” akan membawa penonton pada penyingkapan rahasia besar. Tika menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus lari. Kejadian mistis yang menimpa para penghuni, termasuk kematian Tania, berakar dari masa lalu tempat kost tersebut yang kelam.
Apa yang sebenarnya terjadi di bangunan itu puluhan tahun yang lalu? Mengapa setiap penghuni seolah “diharuskan” untuk memberikan sesuatu sebagai ganti dari murahnya harga sewa yang mereka bayar? Tika dipaksa untuk memilih: apakah ia akan kabur kembali ke jalanan sebagai tunawisma, atau menghadapi kengerian tersebut demi mengungkap kebenaran dan memutus rantai teror yang ada.
Sentuhan Sutradara Ganank Dera dalam Genre Horor
Ganank Dera dikenal sebagai sutradara yang memiliki gaya visual yang unik. Dalam “Lorong Kost”, ia mencoba keluar dari pakem horor konvensional yang hanya mengandalkan penampakan hantu secara vulgar. Ganank lebih memilih membangun ketegangan secara perlahan (slow-burn horror) hingga mencapai klimaks yang meledak.
Keberanian Ganank dalam mengeksplorasi isu sosial ekonomi dalam balutan film horor patut diacungi jempol. Ia berhasil menyisipkan kritik mengenai sulitnya hidup di kota besar, di mana keselamatan seringkali harus dikorbankan demi kebutuhan pokok. Hal ini membuat “Lorong Kost” terasa lebih relevan dan mengerikan bagi masyarakat urban yang mungkin juga pernah merasakan tinggal di tempat serupa.
Tanggal Rilis dan Harapan Penonton: Siapkan Nyali Anda!
Dengan jadwal rilis pada 26 Juni 2025, “Lorong Kost” dipastikan akan menjadi magnet bagi penonton yang mencari tontonan berkualitas di musim liburan. Trailer resmi yang telah dirilis memperlihatkan potongan-potongan adegan yang intens, membuat netizen mulai berspekulasi mengenai akhir cerita dari perjuangan Tika.
Harapan besar disematkan pada film ini agar mampu memberikan warna baru di tengah gempuran film horor Indonesia. Apakah Tika akan berhasil keluar dengan selamat, ataukah ia justru akan menjadi penghuni “abadi” berikutnya di lorong-lorong dingin tersebut? Semua jawabannya akan terungkap dalam waktu dekat. Bagi Anda yang memiliki pengalaman tinggal di kost-kostan tua, film ini mungkin akan membuat Anda berpikir dua kali sebelum keluar kamar di tengah malam.
“Lorong Kost” adalah paket lengkap horor yang menggabungkan isu realita sosial, teror supernatural, dan misteri masa lalu yang kuat. Didukung oleh sutradara yang visioner dan jajaran pemain yang solid, film ini siap menjadi mimpi buruk terbaru bagi siapa saja yang berani menontonnya. Pastikan Anda tidak melewatkan penayangannya mulai 26 Juni mendatang di bioskop kesayangan Anda. Ingat, murah bukan berarti aman!
