Lastworkingday – Sinema horor Indonesia di tahun 2025 kembali mencapai puncaknya melalui karya terbaru sutradara Eden Junjung yang berjudul Angkara Murka. Film ini bukan sekadar horor biasa yang mengandalkan jump scare murahan atau penampakan hantu dengan riasan tebal. Sebaliknya, Angkara Murka adalah sebuah tamparan keras bagi realitas sosial kita, sebuah horor psikologi yang membungkus kritik tajam mengenai eksploitasi alam dan manusia di lereng Gunung Merapi. Dengan jajaran pemain kelas atas seperti Raihaanun dan Whani Darmawan, film ini berhasil membuktikan bahwa kengerian paling hakiki tidak datang dari alam gaib, melainkan dari hati manusia yang sudah mati rasa akibat ketamakan.
Sinopsis Singkat Film Angkara Murka, Pencarian Ambar di Jantung Kegelapan

Cerita berfokus pada Ambar (Raihaanun), seorang ibu muda yang hidupnya hancur setelah suaminya, Jarot, hilang secara misterius saat bekerja di sebuah tambang pasir di lereng Gunung Merapi. Di saat penduduk desa dan otoritas setempat mulai menyerah dan menganggap hilangnya Jarot adalah ulah “penunggu” gunung, Ambar menolak untuk percaya. Baginya, ada sesuatu yang lebih dingin dan lebih nyata daripada sekadar mitos mistis.
Pencarian Ambar membawanya masuk ke dalam lingkaran setan sebuah tambang pasir ilegal yang dikuasai oleh Raden Broto (Whani Darmawan). Di sana, ia tidak hanya berhadapan dengan medan yang berat dan ancaman erupsi Merapi yang sewaktu-waktu bisa terjadi, tetapi juga dengan sistem yang menindas, di mana nyawa buruh tak lebih berharga daripada butiran pasir yang mereka gali setiap hari.
Karakter Ambar: Potret Keteguhan Ibu di Tengah Penindasan
Raihaanun kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu aktris terbaik Indonesia. Perannya sebagai Ambar sangatlah kompleks; ia harus menampilkan kerentanan seorang istri yang kehilangan suami, sekaligus keberanian seorang ibu yang harus melindungi anaknya dari ancaman nyata. Ambar adalah simbol perlawanan terhadap narasi besar yang sengaja diciptakan oleh penguasa untuk menutupi kejahatan.
Sepanjang Film Angkara Murka, kita melihat bagaimana Ambar disudutkan oleh lingkungan yang patriarkal dan mistis. Namun, kecerdasannya dalam mengendus ketidakberesan di area tambang menjadi motor penggerak plot yang sangat kuat. Ia adalah mata bagi penonton untuk melihat bahwa di balik kabut Merapi yang tebal, ada kejahatan yang sengaja disembunyikan dengan rapi.
Raden Broto: Antagonis yang Mewakili Kerakusan Korporat
Whani Darmawan memberikan performa yang sangat mengintimidasi sebagai Raden Broto. Karakter ini digambarkan bukan sebagai penjahat kartun yang tertawa jahat, melainkan sosok penguasa lokal yang tenang, berwibawa, namun mematikan. Ia menggunakan mitos dan kepercayaan lokal sebagai alat untuk mengontrol para pekerjanya.
Raden Broto adalah personifikasi dari kerakusan manusia. Ia merasa memiliki Merapi dan berhak mengambil apa pun darinya, termasuk nyawa manusia. Logikanya yang dingin—bahwa tumbal adalah bagian dari “persembahan” agar bisnis tetap lancar—menjadi poin horor psikologis yang sangat mengganggu. Whani berhasil menghidupkan karakter yang membuat penonton merasa mual bukan karena penampilannya, melainkan karena isi kepalanya.
Horor Psikologi, Teror dari Balik Praktik Mistis Ilegal

Film Horor Angkara Murka sangat cerdik dalam mengolah elemen horornya. Sutradara Eden Junjung tidak memunculkan sosok hantu yang mengejar-ngejar karakter utama. Teror dalam film ini bersifat atmosferik. Suara mesin pengeruk pasir yang beradu dengan gemuruh Merapi menciptakan simfoni ketakutan yang konsisten.
Praktik mistis yang dijalankan oleh Raden Broto digambarkan dengan sangat realistis dan kelam. Penggunaan tumbal manusia dalam tambang ilegal ini menjadi metafora betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di mata mereka yang berkuasa. Keberhasilan film ini terletak pada kemampuannya membuat penonton merasa tidak nyaman dengan “kebenaran” yang diungkapkan oleh Ambar, sebuah horor yang terasa sangat dekat dengan berita-berita kriminal di dunia nyata.
Kritik Sosial: Penindasan Buruh dan Kerusakan Alam Merapi
Salah satu pilar utama yang memperkuat narasi Angkara Murka adalah kritik sosialnya. Film ini dengan berani menyoroti nasib buruh tambang pasir yang bekerja dalam kondisi tidak manusiawi. Mereka tidak hanya mempertaruhkan nyawa dari bahaya longsor, tetapi juga menjadi korban sistem “upah tumbal” yang mengerikan.
Eksploitasi alam di lereng Merapi digambarkan secara visual dengan sangat memukau sekaligus menyedihkan. Pemandangan gunung yang megah dikontraskan dengan lubang-lubang dalam bekas galian pasir yang merusak ekosistem. Film ini mengingatkan kita bahwa ketika manusia merusak alam secara membabi buta demi keuntungan pribadi, alam mungkin akan diam, namun manusia lainlah yang akan menjadi monster yang sebenarnya.
Kolaborasi Ambar dan Lukman: Solidaritas dari Bawah
Dalam perjuangannya, Ambar tidak sepenuhnya sendirian. Ia dibantu oleh Lukman (Simhala Avadana), salah satu pekerja tambang yang mulai merasa muak dengan kekejaman Raden Broto. Karakter Lukman memberikan perspektif dari dalam tambang, tentang bagaimana rasa takut bisa membungkam kebenaran selama bertahun-tahun.
Solidaritas antara Ambar dan Lukman menjadi secercah harapan di tengah kegelapan cerita. Hubungan mereka bukan didasari oleh asmara, melainkan kesadaran kolektif untuk mengakhiri penderitaan. Bersama-sama, mereka harus melawan teror kasat mata dari anak buah Raden Broto dan teror tak kasat mata yang berasal dari aura gelap praktik mistis di lokasi tambang tersebut.
Sinematografi dan Atmosfer, Keindahan yang Mengancam

Secara visual, Angkara Murka adalah mahakarya. Penggunaan warna-warna tanah yang kusam, abu vulkanik yang beterbangan, dan pencahayaan yang minim di area tambang menciptakan suasana klaustrofobik yang mencekam. Kamera sering kali mengambil sudut pandang luas (POV) Merapi, seolah gunung tersebut adalah saksi bisu yang sedang mengawasi kehancuran moral manusia di kakinya.
Eden Junjung berhasil memanfaatkan kemegahan Gunung Merapi bukan sebagai latar belakang belaka, melainkan sebagai karakter tersendiri. Suara gemuruh gunung yang muncul secara periodik berfungsi sebagai pengingat akan adanya kekuatan yang jauh lebih besar daripada keserakahan Raden Broto, namun ironisnya, manusia justru lebih takut pada penguasa sesamanya daripada pada murka alam.
Puncak Konflik: Perlawanan Terhadap Tumbal dan Ketamakan
Menuju babak akhir, tensi Film Angkara Murka meningkat dengan sangat drastis. Ambar harus berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan suaminya—atau apa yang tersisa darinya—sambil melindungi anaknya sendiri yang mulai dijadikan target oleh Raden Broto. Adegan di dalam terowongan tambang ilegal menjadi salah satu momen paling intens dalam sejarah film horor Indonesia.
Puncak konflik ini tidak hanya menyajikan aksi fisik, tetapi juga konfrontasi ideologis. Ambar menantang klaim-klaim mistis Raden Broto dengan logika dan kemanusiaan. Di sini, penonton disuguhi pertanyaan filosofis: apakah setan benar-benar ada, ataukah kita yang menciptakan “setan” itu untuk membenarkan perilaku keji kita?
Mengapa Angkara Murka Adalah Horor Penting di 2025
Angkara Murka (2025) adalah pencapaian luar biasa dalam genre horor psikologi Indonesia. Film ini berhasil melampaui batas-batas genre dengan menyuntikkan narasi sosial yang relevan dan mendalam. Pesan utamanya sangat jelas: teror Merapi mungkin menakutkan dengan laharnya yang panas, namun dinginnya hati manusia yang rakus jauh lebih mematikan.
Bagi pencinta film yang mendambakan cerita dengan substansi kuat, Angkara Murka adalah tontonan wajib. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap butir pasir yang digunakan untuk membangun kemegahan kota, mungkin ada darah dan air mata yang tumpah akibat ketamakan yang tak pernah terpuaskan. Sebuah film yang akan membuat Anda terus berpikir bahkan setelah lampu bioskop dinyalakan kembali.
