Lastworkingday – Industri film horor Indonesia kembali menunjukkan taringnya di tahun 2025 dengan merilis salah satu karya paling dinantikan, The Dark House. Mengambil latar tempat yang ikonik dan penuh misteri di kaki Gunung Slamet, film ini bukan sekadar menawarkan kejutan jump scare murahan, melainkan sebuah perjalanan psikologis yang kelam dan mencekam. Disutradarai oleh tangan dingin Hans Wanaghi, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang akan membuat penonton berpikir dua kali sebelum mengunjungi rumah tua di daerah terpencil.
Sinopsis Singkat Film The Dark House, Niat Pemulihan yang Berujung Petaka

Cerita berfokus pada pasangan suami istri, Dewi (Karina Ranau) dan Arya (Ade Bilal Perdana). Hubungan mereka sedang berada di titik yang rapuh. Arya baru saja berjuang melawan kondisi psikosis yang cukup parah, sementara Dewi sangat berharap bisa menjalani program kehamilan dengan tenang. Atas saran medis dan keinginan untuk mencari ketenangan, mereka memutuskan untuk mengasingkan diri ke sebuah rumah tua milik keluarga yang terletak jauh di kaki Gunung Slamet.
Awalnya, pemandangan pegunungan yang asri dan udara dingin yang segar tampak seperti obat yang sempurna bagi kesehatan mental Arya. Namun, suasana rumah yang dibangun sejak era kolonial itu mulai memancarkan energi negatif. Apa yang mereka harapkan sebagai tempat pemulihan justru menjadi awal dari kehancuran jiwa ketika masa lalu rumah tersebut mulai mengetuk pintu kesadaran mereka.
Latar Belakang Mistis: Sejarah Kelam Tahun 1958 di Kaki Gunung Slamet
Salah satu kekuatan utama The Dark House adalah latar tempatnya yang terinspirasi dari cerita lokal yang beredar pada tahun 1958. Gunung Slamet sendiri sudah lama dikenal dalam mitologi masyarakat Jawa sebagai tempat yang penuh dengan misteri dan gerbang menuju dunia gaib. Hans Wanaghi secara cerdas memadukan elemen sejarah ini ke dalam skenario film.
Rumah yang ditempati Dewi dan Arya diceritakan menyimpan sejarah kelam dari masa transisi pasca-kemerdekaan, di mana praktik-praktik pemujaan rahasia dan kejadian-kejadian hilang secara misterius pernah terjadi di lokasi tersebut. Atmosfer tahun 50-an yang kelam ini dihadirkan kembali melalui desain produksi yang detail, menciptakan kesan bahwa rumah itu sendiri adalah makhluk hidup yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik penghuninya.
Konflik Psikologis: Tipisnya Batas Antara Gangguan Jiwa dan Teror Gaib
Berbeda dengan banyak film horor yang langsung menunjukkan sosok hantu, The Dark House bermain-main dengan isu psikosis yang diderita oleh Arya. Ade Bilal Perdana memberikan performa yang luar biasa dalam menggambarkan kegelisahan seorang pria yang tidak lagi bisa mempercayai indranya sendiri. Penonton diajak untuk bertanya-tanya: apakah kejadian aneh di rumah itu nyata, atau hanya manifestasi dari gangguan mental Arya?
Dewi, yang diperankan dengan penuh empati oleh Karina Ranau, terjebak di antara rasa cinta kepada suaminya dan rasa takut yang semakin nyata. Konflik batin ini menambah lapisan ketegangan yang membuat The Dark House terasa lebih berat dan dewasa. Teror yang sesungguhnya bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam pikiran yang hancur.
Kedatangan Sahabat, Pemicu Terbukanya Portal Terlarang

Ketegangan semakin meningkat saat dua sahabat Dewi, Gaby (Delia Alena) dan Ansel (Theo Culver), datang berkunjung. Kedatangan mereka yang semula bertujuan untuk memberikan dukungan moral bagi Dewi dan Arya justru menjadi katalisator bagi bencana yang lebih besar. Gaby dan Ansel membawa energi luar yang dinamis namun ceroboh ke dalam rumah yang seharusnya tetap tenang.
Interaksi keempat karakter ini menunjukkan dinamika persahabatan yang cukup kompleks. Ada rahasia-rahasia kecil dan kecemburuan yang tersimpan di bawah permukaan, yang nantinya akan dieksploitasi oleh entitas penghuni rumah tersebut. Kehadiran mereka seolah-olah memberikan “makanan” baru bagi kegelapan yang telah lama tertidur di sana.
Permainan Charlie-Charlie: Kebodohan yang Mengundang Maut
Momen puncak yang mengubah arah Film Horor The Dark House ini adalah ketika mereka berempat memutuskan untuk memainkan permainan pemanggil arwah asal Meksiko, Charlie-Charlie. Meski terlihat sederhana hanya dengan dua buah pensil dan secarik kertas, permainan ini dilakukan di tempat yang salah dan pada waktu yang salah.
Ansel yang skeptis dan Gaby yang penasaran mencoba memanggil arwah dengan kalimat ikonik, “Charlie, Charlie, are you here?”. Sesuatu yang awalnya dianggap sebagai candaan untuk memecah kesunyian malam berubah menjadi horor murni saat pensil mulai bergerak dengan sendirinya tanpa bantuan angin. Tanpa mereka sadari, mereka bukan memanggil arwah “Charlie”, melainkan membuka portal bagi entitas lokal yang jauh lebih ganas dan haus akan jiwa manusia.
Teror Nyata: Saat Entitas Gaib Mulai Menampakkan Diri
Setelah permainan Charlie-Charlie dilakukan, rumah tua tersebut tidak lagi sama. Portal gaib yang terbuka secara paksa membuat garis batas antara dunia manusia dan dunia roh menjadi kabur. Teror tidak lagi sekadar bayangan atau suara-suara aneh; entitas di kaki Gunung Slamet mulai menyerang secara fisik dan mental.
Satu per satu karakter mulai mengalami siksaan yang luar biasa. Visualisasi makhluk yang dihadirkan dalam film ini sangat mencekam, menggabungkan efek praktis dan CGI yang halus untuk menciptakan sosok yang benar-benar mengerikan. Adegan-adegan pengejaran di koridor rumah yang gelap dan ruang bawah tanah yang lembap akan membuat detak jantung penonton berpacu cepat.
Sutradara Hans Wanaghi dan Visi Horor Thriller yang Segar

Hans Wanaghi dikenal sebagai sutradara yang perfeksionis dalam hal visual. Dalam The Dark House, ia menggunakan teknik pengambilan gambar low-key lighting yang dominan, memaksa mata penonton untuk fokus pada bayangan dan detail-detail kecil di sudut layar. Ia berhasil menciptakan rasa klaustrofobia meskipun film ini berlatar di rumah yang luas.
Sebagai genre Horor Thriller, film ini tidak hanya mengandalkan darah dan kekerasan. Hans lebih fokus pada pembangunan tensi (suspense) yang perlahan-lahan merayap hingga mencapai klimaks yang meledak. Ia juga memberikan ruang bagi para aktor untuk mengeksplorasi emosi mereka, menjadikan film ini memiliki kedalaman rasa yang jarang ditemukan dalam film horor komersial lainnya.
Chemistry Para Pemain: Karina Ranau dan Ade Bilal Perdana
Karina Ranau dan Ade Bilal Perdana tampil sebagai pasangan yang sangat meyakinkan. Kerapuhan mereka sebagai pasangan yang mendambakan keturunan namun dihantui trauma masa lalu menjadi jangkar emosional bagi penonton. Saat teror mulai memuncak, perjuangan mereka untuk saling melindungi menjadi poin yang mengharukan sekaligus menegangkan.
Pemeran pendukung seperti Delia Alena dan Theo Culver juga memberikan kontribusi yang signifikan. Mereka berhasil memerankan karakter yang “mengganggu” namun tetap memiliki alasan untuk disukai. Keempat aktor ini berhasil membangun rasa urgensi bahwa nyawa mereka benar-benar terancam, dan tidak ada tempat bagi mereka untuk melarikan diri selain menghadapi ketakutan mereka sendiri.
Mengapa The Dark House Wajib Ditonton?
The Dark House (2025) adalah paket lengkap bagi para pecinta film horor. Ia menawarkan misteri sejarah lokal, teror supranatural yang brutal, hingga isu psikologis yang mendalam. Film ini mengingatkan kita bahwa ada beberapa pintu yang sebaiknya tidak pernah dibuka, dan ada permainan yang seharusnya tidak pernah dimulai, terutama di tempat sesakral kaki Gunung Slamet.
Dengan tanggal rilis 12 Juni 2025, pastikan Anda menyiapkan mental untuk memasuki rumah kegelapan ini. The Dark House bukan hanya film tentang rumah berhantu, tetapi tentang bagaimana ketakutan terdalam kita dapat bermanifestasi menjadi monster yang nyata saat kita berani mengusik dunia yang tidak seharusnya kita sentuh. Jangan datang sendirian, dan pastikan Anda tetap berada di bawah cahaya, karena di kaki Gunung Slamet, kegelapan punya cara tersendiri untuk menjerat mangsanya.
