Lastworkingday – Tidur yang seharusnya menjadi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan energi, justru berubah menjadi gerbang menuju neraka bagi Tania. Film horor terbaru tahun 2025, Film Ketindihan, berhasil mengangkat salah satu fenomena medis yang paling sering dikaitkan dengan hal mistis di Indonesia: sleep paralysis. Namun, film ini tidak hanya bicara soal gangguan tidur biasa. Ia menggali lebih dalam ke sebuah rahasia kelam dari tanah Rencong, yakni mitos Jin Beuno.
Dibintangi oleh Haico Van der Veken, film ini menawarkan teror psikologis yang menyesakkan, di mana batas antara kelelahan fisik seorang atlet dan gangguan supranatural menjadi kabur. Mari kita bedah mengapa film ini menjadi perbincangan hangat dan bagaimana mitos Jin Beuno dari Aceh mampu membuat penonton takut untuk memejamkan mata.
Sinopsis Film Ketindihan, Ambisi Atlet yang Berujung Teror Mematikan

Tania (Haico Van der Veken) adalah representasi dari generasi muda yang memikul beban ekspektasi terlalu berat. Sebagai atlet tenis berprestasi, ia ditekan oleh keluarga disfungsionalnya untuk selalu menjadi yang nomor satu. Di tengah tekanan mental tersebut, ia kehilangan sahabatnya, Nurul, secara misterius.
Rasa penasaran dan duka membawa Tania serta teman-temannya melakukan hal yang tabu: melakukan ritual pemanggilan Jin Beuno. Dalam mitos Aceh, Jin Beuno adalah sosok yang kerap mendatangi manusia yang sedang dalam kondisi lemah secara mental dan fisik saat tidur. Setelah ritual tersebut, kehidupan Tania berubah 180 derajat. Tidur bukan lagi kebutuhan, melainkan ancaman. Ia mengalami fenomena Film Ketindihan yang mengerikan setiap malam, di mana sesosok makhluk hitam besar terasa menindih dadanya, membuatnya tak bisa bergerak maupun berteriak, sementara nyawanya perlahan diincar.
Mengenal Jin Beuno: Mitos Aceh yang Menghantui Tidur
Mungkin bagi masyarakat umum di luar Sumatera, nama Jin Beuno terdengar asing. Namun, di Aceh, sosok ini adalah legenda urban yang sudah turun-temurun diceritakan. Film Ketindihan dengan sangat cerdik mengangkat kearifan lokal ini ke layar lebar.
Jin Beuno digambarkan sebagai makhluk gaib yang memiliki perawakan besar, berambut kusut, dan sangat berat. Ia tidak menyerang manusia saat sedang terjaga di bawah sinar matahari. Ia adalah predator malam yang menunggu korbannya berada di ambang antara sadar dan tidak sadar. Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, Jin Beuno sering kali “mengunci” tubuh korbannya hingga lemas.
Film ini memberikan visualisasi yang mencekam tentang bagaimana Jin Beuno bekerja. Ia tidak hanya memberikan rasa sakit fisik, tetapi juga memakan ketakutan dan rasa bersalah korbannya. Pengangkatan mitos ini memberikan warna baru dalam industri horor Indonesia yang selama ini mungkin terlalu jenuh dengan sosok pocong atau kuntilanak.
Sleep Paralysis: Antara Penjelasan Medis dan Teror Gaib
Salah satu kekuatan film Ketindihan adalah kemampuannya mempermainkan logika penonton. Di satu sisi, Tania adalah seorang atlet yang sangat kelelahan. Secara medis, sleep paralysis atau ketindihan terjadi ketika otak sudah terjaga dari fase tidur REM (Rapid Eye Movement), namun tubuh masih dalam keadaan lumpuh sementara.
Namun, film ini mengajukan pertanyaan: Bagaimana jika penjelasan medis itu hanyalah penutup untuk sesuatu yang lebih jahat? Dalam narasi film, ketindihan yang dialami Tania bukan sekadar malfungsi saraf. Ada pola yang konsisten, ada suara-suara yang tak terdengar oleh telinga manusia biasa, dan ada bekas luka fisik yang tertinggal setelah ia terbangun. Penggabungan antara fakta sains tentang gangguan tidur dan mitos Jin Beuno menciptakan rasa insecure bagi penonton setiap kali mereka merasa lelah dan ingin tidur.
Konflik Keluarga dan Hubungan Toxic sebagai Pintu Masuk Jin

Jin Beuno dalam Film Ketindihan Bioskop Indonesia ini tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan celah di jiwa korbannya. Tania digambarkan terjepit dalam hubungan toxic dengan pacarnya yang tidak suportif, serta keluarga yang hanya mencintainya jika ia menang di lapangan tenis.
Tekanan psikologis inilah yang membuat “benteng” pertahanan mental Tania runtuh. Film ini memberikan pesan tersirat bahwa gangguan supranatural sering kali selaras dengan kesehatan mental seseorang. Ketika Tania merasa terisolasi dan tidak berdaya di dunia nyata, Jin Beuno mendapatkan kekuatan lebih untuk menariknya ke dunia gaib. Penonton diajak melihat bahwa horor yang sebenarnya bukan hanya makhluk bermata merah yang menindih tubuh kita, tapi juga orang-orang terdekat yang secara perlahan membunuh mental kita.
Transformasi Haico Van der Veken sebagai Tania
Akting Haico Van der Veken dalam film ini patut diacungi jempol. Ia berhasil memerankan sosok atlet yang tangguh di luar namun hancur di dalam. Adegan-adegan di mana ia mengalami ketindihan dieksekusi dengan sangat realistis; tatapan mata yang penuh ketakutan tanpa bisa menggerakkan satu jari pun membuat penonton ikut merasa sesak napas.
Perubahan fisik Tania dari seorang atlet yang segar menjadi sosok yang pucat, kurang tidur, dan paranoid digambarkan dengan sangat detail melalui make-up dan akting yang intens. Haico mampu menyampaikan rasa frustrasi seorang remaja yang impian medali emasnya terancam sirna hanya karena ia tidak bisa—dan takut—untuk tidur.
Sinematografi dan Audio, Menciptakan Suasana Sesak Napas

Sutradara film Ketindihan menggunakan teknik pengambilan gambar yang sangat intim dan sempit (claustrophobic). Kamera sering kali berada sangat dekat dengan wajah Tania saat ia sedang tidur, membuat penonton merasakan ruang gerak yang sangat terbatas.
Efek suara atau sound design juga memegang peranan vital. Suara napas yang tersenggal, rintihan halus yang tertahan di tenggorokan, hingga suara gesekan rambut Jin Beuno di lantai menciptakan teror audio yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak banyak jump scare murahan di film ini; kengerian dibangun melalui suasana hening yang mengancam.
Pesan Moral: Berdamai dengan Diri Sendiri
Di balik segala teror Jin Beuno, Film Ketindihan adalah film tentang perjuangan untuk merebut kembali otoritas atas diri sendiri. Tania dipaksa menghadapi ketakutan terbesarnya, mengakui luka-luka emosionalnya, dan memutus hubungan yang merusaknya.
Film ini mengingatkan kita bahwa untuk mengalahkan “setan” di luar, kita harus terlebih dahulu menjinakkan “badai” di dalam diri. Ritual yang dilakukan Tania di awal film mungkin adalah kesalahan, namun perjuangannya untuk bertahan hidup adalah proses pendewasaan yang menyakitkan namun perlu.
Sebuah Horor Lokal yang Segar dan Bermakna
Film Ketindihan (2025) bukan hanya film horor yang bertujuan untuk mengagetkan penonton. Ia adalah sebuah karya yang mengangkat mitos Aceh, Jin Beuno, ke tingkat global dengan balutan isu kesehatan mental dan konflik keluarga yang relevan. Film ini sukses membuat fenomena sederhana seperti tidur menjadi sesuatu yang patut diwaspadai.
Bagi Anda yang sering mengalami sleep paralysis, film ini mungkin akan terasa sangat personal—atau justru terlalu menakutkan. Satu hal yang pasti, setelah menonton film ini, Anda mungkin akan berpikir dua kali untuk menantang mitos lokal atau membiarkan diri Anda larut dalam kelelahan yang berlebihan.
