Lastworkingday – Dunia perfilman Indonesia kembali kedatangan sebuah karya yang menyegarkan sekaligus menyentuh hati. Melalui film terbaru berjudul Na Willa, penonton tidak hanya disuguhi tontonan visual yang apik, tetapi juga diajak menyelami kedalaman makna dari sebuah kehidupan sederhana. Film yang diadaptasi dari serial buku karya Reda Gaudiamo ini menawarkan sebuah perspektif yang jujur dan jernih mengenai masa kecil di tengah keluarga multikultural.
Berlatar di sebuah gang di pinggiran kota Surabaya pada dekade 1960-an, film ini menjadi sebuah mesin waktu yang membawa kita kembali ke masa di mana kebahagiaan ditemukan dalam hal-hal kecil. Dengan durasi yang intim, Na Willa berhasil memotret bagaimana keberagaman bukan sekadar konsep sosiologis, melainkan nafas hidup sehari-hari yang membentuk karakter seorang anak manusia.
Sinopsis Film Na Willa, Dunia dalam Mata Seorang Bocah Enam Tahun

Pusat dari film ini adalah Na Willa (diperankan dengan sangat apik oleh Luisa Adreena), seorang gadis kecil berusia enam tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang meluap-luap. Willa hidup di sebuah lingkungan pemukiman yang padat namun hangat di Surabaya. Melalui matanya yang polos, kita melihat dunia yang sangat berwarna.
Willa lahir dari orang tua yang memiliki latar belakang budaya yang kontras namun saling melengkapi. Ibunya adalah seorang wanita berkarakter kuat yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara ayahnya adalah seorang pria keturunan Tionghoa yang tenang dan penyayang. Dinamika keluarga ini menjadi inti cerita—bagaimana perbedaan bahasa, tradisi, hingga selera makan bersatu di bawah satu atap rumah kecil di tepi gang.
Cerita tidak berfokus pada konflik besar atau drama yang meledak-ledak. Sebaliknya, film ini merajut potongan-potongan pengalaman masa kecil: bermain di halaman, mendengar dongeng sebelum tidur, hingga interaksi Willa dengan tetangga-tetangganya yang beragam. Namun, di balik kesederhanaan itu, terdapat makna mendalam tentang pertumbuhan, pencarian jati diri, dan cara seorang anak memahami perbedaan di sekitarnya.
Setting Surabaya 1960-an: Nostalgia yang Otentik
Salah satu kekuatan utama film Na Willa terletak pada desain produksinya. Mengambil latar tahun 1960-an, tim produksi berhasil menghidupkan kembali nuansa Surabaya tempo dulu. Penonton akan melihat detail-detail yang sangat kurasi: mulai dari perabotan rumah tangga kuno, kaleng biskuit jadul, hingga gaya berpakaian masyarakat pada masa itu.
Surabaya digambarkan bukan sebagai kota besar yang sibuk, melainkan sebagai kumpulan komunitas yang saling mengenal. Gang tempat Willa tinggal adalah sebuah ekosistem kecil di mana semua orang tahu nama satu sama lain. Atmosfer ini sangat penting karena memperkuat pesan tentang “keberagaman yang organik”. Di masa itu, perbedaan etnis dan budaya sering kali melebur dalam interaksi bertetangga yang tulus, tanpa banyak pretensi politik atau sekat sosial yang tebal seperti yang sering kita temui di era modern.
Dinamika Multikultural: NTT dan Tionghoa dalam Satu Atap
Film ini secara berani dan indah menyoroti keluarga multikultural tanpa terkesan menggurui. Pertemuan budaya NTT dan Tionghoa dalam rumah Willa disajikan melalui detail-detail kecil yang manusiawi.
-
Budaya Ibu (NTT): Karakter sang Ibu membawa kehangatan dan ketegasan. Melalui dialog-dialognya, kita bisa merasakan hembusan budaya Indonesia Timur yang menjunjung tinggi kedisiplinan namun penuh kasih. Masakan dan nyanyian dari kampung halaman Ibu seringkali muncul sebagai pengingat akan akar budaya yang dibawa jauh dari seberang lautan.
-
Budaya Ayah (Tionghoa): Sang Ayah merepresentasikan ketenangan dan ketekunan. Warisan budaya Tionghoa muncul dalam cara Ayah bekerja, berinteraksi dengan komunitas perdagangan, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil di rumah.
Willa, sebagai produk dari kedua budaya ini, tidak merasa terbelah. Baginya, perbedaan itu adalah normal. Ia belajar mencintai pedasnya masakan Ibu dan menghargai tradisi-tradisi dari pihak Ayah. Ini adalah pesan penting bagi penonton dewasa: bahwa keberagaman adalah kekayaan yang memperluas cakrawala, bukan penghalang yang mempersempit pandangan.
Akting Luisa Adreena, Kepolosan yang Menghanyutkan

Sebuah Film Bioskop Na Willa 2026 yang berpusat pada anak-anak akan jatuh atau bangun berdasarkan kualitas aktor ciliknya. Luisa Adreena dalam perannya sebagai Na Willa memberikan performa yang luar biasa. Ia mampu membawakan karakter Willa yang cerdas, sedikit keras kepala, namun sangat tulus.
Eksplorasi Willa terhadap dunianya—seperti saat ia bertanya mengapa warna kulit orang berbeda-beda atau mengapa bahasa yang digunakan di rumah berbeda dengan di sekolah—disampaikan dengan ekspresi yang sangat natural. Penonton akan merasa seolah sedang mengamati anak sendiri atau bahkan melihat refleksi diri mereka di masa kecil. Akting Luisa adalah “jangkar” yang membuat emosi dalam film ini terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat.
Pertumbuhan dan Perubahan Zaman: Sebuah Refleksi
Meskipun terlihat seperti film anak-anak, Na Willa memiliki lapisan makna yang lebih dewasa. Film ini menangkap momen transisi dalam hidup seorang anak yang harus menghadapi perubahan zaman. Tahun 1960-an adalah periode penting dalam sejarah Indonesia, dan film ini secara halus menyisipkan bagaimana situasi sosial politik mulai merembes masuk ke dalam kehidupan sehari-hari di gang-gang sempit.
Perubahan ini dilihat dari sudut pandang Willa yang mungkin belum mengerti segalanya, namun ia merasakan adanya pergeseran. Ia mulai melihat teman-temannya pindah rumah, orang-orang dewasa yang mulai membicarakan hal-hal serius, hingga teknologi yang mulai masuk ke rumah-rumah. Ini adalah cerita tentang hilangnya “masa tidak bersalah” (loss of innocence) yang dialami setiap manusia saat beranjak dewasa.
Makna Keberagaman bagi Penonton Modern
Mengapa film Na Willa sangat relevan untuk ditonton saat ini? Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, film ini mengingatkan kita pada fondasi dasar bangsa Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika.
Keberagaman dalam film ini tidak disajikan sebagai masalah yang harus diselesaikan, melainkan sebagai realitas yang harus dijalani dengan cinta. Film ini mengajak kita untuk kembali pada nilai-nilai toleransi yang paling mendasar, yaitu rasa ingin tahu yang positif terhadap orang lain yang “berbeda” dari kita. Na Willa mengajarkan bahwa dengan bertanya dan mendengarkan, kita bisa memahami orang lain lebih baik daripada sekadar menghakimi dari kejauhan.
Arahan Sutradara dan Estetika Visual

Sutradara Film Drama Keluarga ini patut diapresiasi karena keberaniannya mengambil tempo yang lambat dan kontemplatif. Di saat banyak film layar lebar mengejar aksi dan ketegangan, Na Willa memilih untuk “berhenti sejenak” dan menikmati setiap momen.
Sinematografinya menggunakan palet warna yang hangat (warm tones), menciptakan kesan seperti melihat foto-foto lama di album keluarga. Penggunaan musik yang minimalis namun menyentuh—seringkali menggunakan instrumen tradisional yang dipadukan dengan melodi modern—memperkuat nuansa nostalgia yang ingin dibangun. Setiap frame dalam film ini terasa seperti sebuah lukisan yang menceritakan tentang kasih sayang dan kedamaian.
Mengapa Anda Harus Menonton Na Willa?
Film ini adalah tontonan wajib bagi semua anggota keluarga. Bagi anak-anak, film ini memberikan petualangan imajinatif tentang masa kecil yang bebas dari gawai. Bagi orang dewasa, ini adalah refleksi tentang bagaimana kita dibentuk oleh keluarga dan lingkungan masa kecil kita.
Menonton Na Willa adalah sebuah perjalanan emosional yang akan membuat Anda tersenyum, merenung, dan mungkin sedikit berkaca-kaca karena rindu pada masa lalu yang lebih sederhana. Ini adalah sebuah surat cinta untuk Indonesia, untuk Surabaya, dan untuk setiap anak yang tumbuh besar dengan lebih dari satu identitas di dalam darahnya.
Kesimpulan
Na Willa adalah sebuah mahakarya kecil yang memiliki dampak besar. Melalui sinopsis yang sederhana—tentang seorang gadis kecil, ayahnya yang Tionghoa, dan ibunya yang dari NTT—film ini berhasil menyampaikan pesan universal tentang kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa film tidak butuh ledakan besar atau konflik berdarah untuk menjadi bermakna. Cukup dengan kejujuran, kepolosan, dan sedikit rasa ingin tahu seorang anak berusia enam tahun.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu film paling hangat tahun ini di bioskop terdekat. Na Willa bukan hanya sebuah film; ia adalah pelukan hangat bagi siapa saja yang percaya bahwa keberagaman adalah keindahan yang paling hakiki.
