Lastworkingday – Film horor komedi Indonesia kembali mendapatkan penyegaran dengan premis yang unik dan menggelitik melalui judul “Warung Pocong: Kisah Tiga Sahabat yang Tergiur Gaji Sultan di Desa Terpencil”. Film ini tidak hanya menawarkan lompatan kaget (jump scare) khas film horor, tetapi juga menyisipkan satir sosial mengenai kondisi ekonomi masyarakat perkotaan yang terjepit masalah finansial.
Diperankan oleh trio komika berbakat, film ini menjanjikan dinamika persahabatan yang konyol di tengah situasi yang mencekam. Artikel ini akan membedah alur cerita, karakter, serta elemen-elemen menarik yang membuat film ini layak masuk dalam daftar tontonan wajib Anda.
Sinopsis Film Warung Setan, Tawaran Gila di Tengah Keputusasaan

Kisah bermula di hiruk-pikuk Jakarta, di mana tiga sahabat karib—Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil)—berada di titik terendah hidup mereka. Kartono dikejar-kejar penagih utang akibat gaya hidup yang melampaui kemampuan, Agus menjadi korban penipuan loker bodong, sementara Makmur harus kehilangan seluruh tabungannya karena tergiur investasi koin kripto fiktif.
Saat harapan hampir sirna, muncul sosok misterius bernama Kusno (Whani Darmawan). Kusno menawarkan sebuah pekerjaan yang terdengar tidak masuk akal: menjaga sebuah warung makan di sebuah desa terpencil bernama Desa Lali Jiwo. Yang membuat ketiganya terbelalak adalah nominal gajinya, yaitu 50 juta rupiah per bulan.
Tanpa pikir panjang dan tanpa melakukan riset mendalam—karena desakan perut dan utang—mereka menerima tawaran tersebut. Mereka segera dibawa menempuh perjalanan jauh, meninggalkan gemerlap Jakarta menuju kegelapan hutan di perbatasan Jawa Tengah yang seolah tidak ada di peta digital.
Mengenal Karakter: Trio Jakarta yang “Apes”
Kesuksesan film horor komedi sangat bergantung pada chemistry para pemainnya. Dalam “Warung Pocong“, kita melihat pembagian karakter yang sangat kontras namun saling melengkapi:
-
Kartono (Fajar Nugra): Sosok yang merasa paling pintar dan menjadi inisiator kelompok. Fajar Nugra berhasil membawakan karakter yang panikan namun tetap berusaha terlihat keren di depan teman-temannya.
-
Agus (Sadana Agung): Karakter yang paling lugu dan religius namun seringkali lambat dalam bereaksi. Kepolosan Agus seringkali menjadi sumber tawa di tengah situasi horor.
-
Makmur (Randhika Djamil): Anggota yang paling pesimis dan sering mengeluh. Makmur adalah tipe orang yang lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan nyawa, yang memberikan dimensi komedi gelap pada ceritanya.
-
Kusno (Whani Darmawan): Sebagai antagonis atau penggerak cerita, Whani Darmawan memberikan performa yang dingin, misterius, dan penuh teka-teki, membuat penonton selalu waspada terhadap niat terselubungnya.
Desa Lali Jiwo: Atmosfer Mencekam di Balik Gaji Fantastis
Sesampainya di Desa Lali Jiwo, suasana berubah drastis. Desa tersebut digambarkan sebagai tempat yang selalu berkabut, dengan pepohonan tua yang merunduk seolah sedang berbisik. Warung yang harus mereka jaga bukanlah restoran modern, melainkan warung kayu tua yang terletak di persimpangan jalan mati.
Nama “Lali Jiwo” sendiri secara harfiah berarti “Lupa Jiwa”. Hal ini menjadi pertanda awal bahwa siapa pun yang datang ke sana dengan keserakahan, akan melupakan hakikat kemanusiaan mereka. Keanehan pertama muncul ketika mereka menyadari bahwa warung tersebut hanya buka dari pukul 12 malam hingga pukul 3 pagi, dan menu yang disajikan hanyalah nasi putih dengan lauk yang terlihat tidak lazim.
Teror Sosok Pocong, Antara Mitos dan Pesugihan

Konflik memuncak ketika pada malam ketiga, Kartono melihat sesosok putih berdiri mematung di sudut warung. Awalnya mereka mengira itu adalah pelanggan yang mengenakan kostum, namun ketika sosok tersebut mulai melompat dengan suara tulang yang berderak, nyali mereka ciut.
Teror pocong dalam Film Bioskop Warung Pocong ini tidak hanya ditampilkan secara visual, tetapi juga melalui suara-suara aneh dan bau busuk yang menyengat. Rupanya, warung tersebut merupakan bagian dari praktik pesugihan kuno. Gaji 50 juta yang mereka terima bukanlah uang cuma-cuma, melainkan “uang darah” di mana mereka bertugas menjadi pelayan bagi entitas gaib yang haus akan tumbal.
Pocong-pocong yang muncul digambarkan sebagai mantan penjaga warung terdahulu yang gagal menjalankan tugasnya atau sengaja dikorbankan agar usaha Kusno tetap laris manis.
Komedi di Tengah Horor: Oase dalam Ketakutan
Meskipun premisnya terdengar menyeramkan, kehadiran Fajar, Sadana, dan Randhika memastikan penonton tetap terhibur. Dialog-dialog khas komika yang relatable dengan masalah anak muda zaman sekarang menjadi bumbu penyedap.
Misalnya, saat mereka dikejar pocong, bukannya berdoa, Makmur justru sempat menghitung sisa cicilan motornya jika ia mati saat itu. Atau Agus yang mencoba melakukan “ruqyah” pada pocong namun justru lupa ayat-ayat pendek karena terlalu takut. Keseimbangan antara rasa takut dan tawa inilah yang membuat “Warung Pocong” menjadi film Warung Pocong yang menyenangkan untuk ditonton bersama teman-teman.
Pesan Moral, Bahaya Keserakahan dan Jalan Pintas

Di balik lelucon dan hantu-hantu yang bermunculan, Film Komedi Horor ini membawa pesan moral yang cukup mendalam. Fenomena “Gaji Sultan” seringkali menjadi umpan bagi anak muda yang ingin cepat kaya tanpa kerja keras. Film ini mengkritik bagaimana masalah finansial bisa membutakan logika seseorang hingga mereka mengabaikan keselamatan diri sendiri.
Kartono, Agus, dan Makmur adalah representasi dari kita semua yang mungkin pernah tergiur oleh sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan (too good to be true). Desa Lali Jiwo adalah pengingat bahwa tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini; setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan terkadang harganya jauh lebih mahal daripada uang 50 juta.
Mengapa Anda Harus Menonton “Warung Pocong”?
Jika Anda adalah penggemar film Warung Pocong seperti Agak Laen atau Ghost Writer, maka “Warung Pocong” adalah pilihan yang tepat. Film ini menawarkan:
-
Visual Horor yang Solid: Desain produksi Desa Lali Jiwo dan makeup pocong yang cukup detail untuk membuat Anda merinding.
-
Komedi Organik: Tidak ada lawakan yang terasa dipaksakan; semua mengalir dari kepanikan karakter-karakternya.
-
Akting Whani Darmawan: Penampilan aktor senior ini memberikan bobot serius pada film Warung Pocong, menyeimbangkan kekonyolan ketiga karakter utama.
-
Plot Twist: Akhir cerita yang tidak terduga mengenai siapa sebenarnya sosok Kusno dan apa rahasia besar di balik warung tersebut.
Kesimpulan
“Warung Pocong: Kisah Tiga Sahabat yang Tergiur Gaji Sultan di Desa Terpencil” adalah sebuah perjalanan horor yang dibalut tawa renyah. Film Warung Pocong ini membuktikan bahwa hantu yang paling menyeramkan bukanlah pocong atau kuntilanak, melainkan isi dompet yang kosong dan utang yang menumpuk.
Keberanian Kartono, Agus, dan Makmur dalam menghadapi teror di Desa Lali Jiwo akan membuat Anda tertawa sekaligus merinding di saat bersamaan. Jadi, apakah Anda punya nyali untuk melamar kerja di warung ini? Pastikan Anda menontonnya di bioskop terdekat dan jangan datang sendirian, kecuali Anda ingin ditemani oleh “pelanggan” setia warung tersebut.
